BERITA TERKINIHEADLINE

DLH Sultra Turunkan Alat Mobile Ukur Kualitas Udara di Sejumlah Kabupaten

×

DLH Sultra Turunkan Alat Mobile Ukur Kualitas Udara di Sejumlah Kabupaten

Sebarkan artikel ini
DLH Sultra

LAJUR.CO, KENDARI – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menerjunkan tim mobile untuk mengukur kualitas udara di sejumlah kabupaten menyusul penurunan kualitas udara akibat kondisi kabut asap. Langkah ini dilakukan sesuai arahan Gubernur Sultra guna memastikan kondisi udara di lapangan sekaligus mengantisipasi potensi risiko kesehatan bagi masyarakat.

Kepala DLH Sultra, La Ode Muhamad Ali Haswandy, mengatakan pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Meski hasil pengukuran menunjukkan kualitas udara masih dalam kategori baik, penurunan kualitas udara menjadi alasan bagi tim untuk melakukan pemeriksaan langsung di sejumlah daerah.

“Sesuai dengan arahan dan instruksi Gubernur Sultra, dengan segala sumber daya yang ada, kami menurunkan tim mobile untuk mengukur kualitas udara di daerah. Memang kondisinya masih dalam kategori baik, tetapi terjadi penurunan kualitas udara. Karena itu, kami melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi di lapangan,” kata Haswandy, Kamis (15/10/2026).

Pemantauan lapangan menyasar sejumlah wilayah daratan, yakni Kabupaten Bombana, Kolaka, Konawe, Kolaka Timur (Koltim), dan Konawe Utara (Konut).

Baca Juga :  Bendungan Pelosika Dapat Anggaran Rp9,8 Triliun, Ridwan Bae: Jangan Ada Hak Warga Dikorbankan

Haswandy menjelaskan, pemeriksaan dilakukan secara bergiliran karena DLH Sultra hanya memiliki satu unit peralatan mobile yang tersedia di laboratorium. Keterbatasan alat membuat tim belum bisa memeriksa seluruh kabupaten secara bersamaan.

“Karena alatnya cuma satu yang ada di laboratorium, tim akan bergerak dari Bombana ke Kolaka, kemudian Konawe Utara dan kabupaten lainnya. Pemantauan masih dilaksanakan secara bergiliran,” ujarnya.

Selain pemeriksaan langsung di lapangan, DLH Sultra memantau kualitas udara Kota Kendari melalui alat Air Quality Monitoring System (AQMS) yang ditempatkan di kantor DLH Sultra. Peralatan tersebut berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Berdasarkan pembaruan AQMS pada Kamis (15/10/2026), kualitas udara Kota Kendari tercatat pada level 39. Angka tersebut masuk kategori baik, dengan cakupan pemantauan yang disebut menjangkau wilayah hingga radius 5 kilometer dari lokasi alat.

Haswandy mengatakan, pemantauan harian di Kendari telah dilakukan sejak 11 Oktober 2026. Meski terdapat peningkatan nilai parameter kualitas udara, hasil pengukuran hingga 15 Oktober masih menunjukkan kondisi yang tergolong baik.

Baca Juga :  Aji Mumpung Kemarau! PUPR Benahi 11 Titik Rawan Banjir di Kota Kendari

“Memang setiap hari terjadi peningkatan nilai parameter kualitas udara. Namun, sampai hari ini, 15 Oktober, kondisinya masih dalam kategori baik,” katanya.

Berdasarkan skala kategori yang disampaikan DLH Sultra, nilai 0–50 termasuk kategori baik, 51–100 kategori sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan nilai di atas 300 masuk kategori membahayakan.

Meski hasil pengukuran AQMS menunjukkan kualitas udara Kendari masih baik, Haswandy mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Warga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel polutan.

Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka maupun aktivitas lain yang berpotensi memperburuk kualitas udara di Sultra.

“Kalau beraktivitas di luar ruangan, masyarakat sebaiknya menggunakan alat pelindung, dalam hal ini masker. Tetap waspada dan jangan melakukan kegiatan pembakaran atau aktivitas lain yang dapat memperkeruh kondisi udara,” tegasnya.

Haswandy mengungkapkan, keterbatasan peralatan dan tenaga menjadi tantangan bagi DLH Sultra untuk menjangkau seluruh daerah secara bersamaan. Saat ini, hanya lima pegawai yang memiliki kapasitas dan sertifikasi untuk melaksanakan pemantauan kualitas udara.

Baca Juga :  Fenomena Kabut Asap Selimuti Kota Kendari & Wilayah Sultra Lain, BMKG Imbau Warga Gunakan Masker

Karena itu, ia berharap pemerintah kabupaten dan kota dapat menyediakan alat pemantau kualitas udara secara mandiri. Keberadaan peralatan di setiap daerah dinilai penting agar kondisi udara dapat dipantau secara berkala tanpa harus menunggu kedatangan tim provinsi.

“Seharusnya setiap kabupaten dan kota memiliki peralatan pemantau kualitas udara yang ditempatkan di DLH masing-masing, sehingga kondisi udara bisa dipantau secara langsung,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), Awaludin, menjelaskan pengukuran kualitas udara menggunakan sejumlah parameter, termasuk PM2.5, yaitu partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan.

Pemantauan melalui AQMS di Kendari dan pemeriksaan langsung menggunakan alat mobile di sejumlah kabupaten diharapkan memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai kondisi udara di Sultra. Hasil pengukuran tersebut menjadi dasar bagi DLH untuk menentukan langkah antisipasi serta menyampaikan peringatan kepada masyarakat apabila kualitas udara memburuk. Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!