?>
BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Belajar dari Bali, DLH Sultra Olah Limbah Buah Jadi Body Butter dan Sabun Organik

×

Belajar dari Bali, DLH Sultra Olah Limbah Buah Jadi Body Butter dan Sabun Organik

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Limbah sisa buah yang selama ini hanya berakhir di tempat sampah kini diolah menjadi produk perawatan tubuh oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Melalui UPTD Persampahan, limbah buah diolah menjadi eco-enzyme yang kemudian dikembangkan menjadi sabun organik dan body butter.

Kepala DLH Sultra, Dr Andi Makkawaru, mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya UPTD Persampahan mengolah sampah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat. Terlebih, sekitar 60 persen polusi sampah di Sultra merupakan limbah organik dari rumah tangga.

Kepala UPTD Persampahan DLH Sultra, Hamrillah, mengatakan ide mengolah limbah buah bermula dari kegelisahan melihat banyaknya sisa buah yang terbuang, termasuk dari penjual jus di Kota Kendari. Gagasan itu kemudian berkembang setelah pihaknya mengikuti workshop pengolahan eco-enzyme yang diampu Ibu Yuli di Bali.

“Awalnya karena melihat kegelisahan. Kita kan banyak sampah buah yang biasa kita lihat di jalan, di penjual jus. Kemudian dipertemukan dengan workshop yang dilaksanakan Ibu Yuli di Bali. Kemudian kita belajar lebih dalam,” kata Hamrillah, Senin (14/9/2026).

Dari pelatihan di Bali, tim UPTD Persampahan mulai mengembangkan eco-enzyme hingga produk turunannya. Meski di Bali produk sabun dan body butter dari limbah sangat familiar, di Sultra konsep ini masih tergolong baru. Di Bali, rata-rata hotel menggunakan produk sabun organik.

“Untuk Sultra hal ini masih baru sekali. Jadi kami yang mulai mengembangkan mulai dari eco-enzyme-nya, sabunnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Siapkan Lilin! Ini Titik Mati Lampu PLN Kendari Jumat 4 September, Ada yang Sampai Tengah Malam

Pengembangan sabun batang organik telah dilakukan sekitar enam bulan. Khusus produk sabun padat organik diformulasi dari campuran eco-enzyme sisa buah, NaOH, dan minyak kelapa lokal Sultra (VCO) dari Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka. Saat digunakan, sabun organik teruji mudah mengikat lemak dan melembutkan kulit. Meski masih dalam tahap pengembangan, produk tersebut telah digunakan secara internal di lingkup UPTD Persampahan.

Kata dia, menariknya limbah cair dari sabun organik sangat aman jika mengalir ke lingkungan karena nihil bahan kimia.

“Karena bahannya semua organik, ketika kita selesai menggunakan, yang terlepas ke alam itu aman untuk lingkungan. Dan dia sifatnya lebih mudah mengikat lemak dan lebih melembutkan,” jelasnya.

Setelah sabun, UPTD Persampahan mulai mengembangkan body butter yang diproduksi sekitar dua pekan terakhir. Produk body butter yang dikembangkan DLH Sultra dibuat dari campuran VCO, eco-enzyme berbahan kulit buah, shea butter, minyak nilam, dan beeswax. Penggunaan VCO lokal dari Samaturu terbukti aman dan sangat pas sebagai bahan body butter. Formula bahan organik pada body butter membuat produk tersebut lebih ramah lingkungan.

“VCO-nya dari Kolaka, minyak kampung dari Kecamatan Samaturu. Memang hasilnya sangat bagus, sangat cocok untuk dijadikan body butter karena dia lebih murni minyaknya,” katanya.

Pengolahan limbah buah tersebut menerapkan konsep minim residu. Setelah eco-enzyme dipanen, ampas buah yang tersisa masih dapat dimanfaatkan menjadi kompos sehingga tidak ada bagian yang benar-benar terbuang. Pola tersebut efektif mengurangi volume sampah organik yang masuk ke TPA.

Baca Juga :  Kursi Sekda Sultra Definitif Dilelang, Pejabat Luar Non Putra Daerah Bisa 'Uji Nyali' Daftar Asal Penuhi Syarat

“Eco-enzyme ini setelah jadi enggak ada yang terbuang. Ampasnya setelah kita panen bisa jadi kompos lagi,” ujar Hamrillah.

Menurut Hamrillah, peluang pengembangan produk body butter dan sabun padat cair cukup besar karena bahan bakunya mudah ditemukan. Namun, tantangannya adalah masyarakat Kendari dan Sultra masih belum terlalu familiar dengan produk berbasis eco-enzyme. Kondisi berbeda terlihat di Bali yang sudah lebih dulu mengembangkan produk organik, termasuk untuk kebutuhan sektor perhotelan.

“Kalau pengamatan saya, di Kota Kendari termasuk Sultra belum terlalu familiar. Kalau di Bali sudah mulai banyak. Tapi menurut saya prospeknya bagus sekali, apalagi kita punya banyak sampah buah, penjual jus,” tuturnya.

Untuk memperluas pemahaman masyarakat, UPTD Persampahan membuka kesempatan bagi warga yang ingin belajar membuat eco-enzyme hingga produk turunannya. Hamrillah mengatakan pihaknya siap memberikan edukasi selama jam kerja.

“Kalau ada yang mau belajar tentang eco-enzyme, kami terbuka untuk datang ke sini jam kerja. Kami siap mengajarkan sampai produk turunannya,” katanya.

Agar penggunaan sabun organik dan body butter bisa masuk ke pasaran, DLH Sultra tengah menjajaki komunikasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk kebutuhan perizinan dan kelayakan produksi.

“Kami ingin sekali bisa mengkomersialkan. Makanya kami sudah mulai membangun komunikasi di BPOM, seperti apa pengurusannya untuk harus ada izin BPOM,” ujarnya.

Baca Juga :  Akal Bulus Pengedar Sabu 1,8 Kg di Kendari, Kemas Narkoba Pakai Bungkus Teh Cina

Hamrillah berharap body butter dan sabun organik tersebut dapat diproduksi lebih luas dan digunakan masyarakat. Pemanfaatan limbah buah bukan hanya menghasilkan produk bernilai guna, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah dan mendorong konsep zero waste.

“Harapannya ke depan bisa diproduksi luas, dipakai masyarakat karena ini produk ramah lingkungan, tidak mencemari lingkungan, bisa menekan zero waste karena bahannya dari limbah buah-buahan,” tuturnya.

Sejalan dengan itu, Andi Makkawaru menilai inovasi tersebut merupakan pengembangan lanjutan dari upaya UPTD Persampahan mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Sebelumnya, UPTD tersebut telah mengembangkan ecobrick dan berhasil menyabet penghargaan dari Gubernur Sultra.

Kini, inovasi pengolahan sampah diperluas dengan memanfaatkan limbah organik menjadi body butter dan sabun. Andi melihat produk tersebut berpeluang dikembangkan melalui program Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih sehingga dapat diproduksi sekaligus dipasarkan di tingkat desa dan kelurahan.

“Ternyata dari limbah terbuang bisa menghasilkan namanya body butter dan sabun. Itu semacam penghalus kulit yang berasal dari eco-enzyme,” kata mantan Pj Bupati Kolaka itu.

Ia menambahkan penggunaan VCO dari Kolaka menjadi nilai tambah karena inovasi tersebut tidak hanya memanfaatkan limbah, tetapi juga mengangkat bahan lokal Sultra.

“Ini sebenarnya berhasil guna. Kemudian kita coba inovasinya dengan produk lokal VCO dari Kolaka. Itu menghasilkan produk butter yang baik,” ujarnya. Adm

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>