LAJUR.CO, KENDARI – Kabar pembangunan Bendungan Pelosika di Sulawesi Tenggara (Sultra) memasuki babak baru. Meski sempat dicoret dari daftar perencanaan infrastruktur strategis pemerintah pusat di tahun 2028, Bendungan Pelosik yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun itu kini sudah mendapat lampu hijau. Alokasi anggarannya pun telah disiapkan sekitar Rp9,8 triliun.
Pengerjaannya ditargetkan mulai digarap pada 2026 hingga 2030. Di tengah persiapan tersebut, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, mengingatkan agar pembangunan bendungan tidak mengorbankan hak warga yang terdampak.
Peringatan itu berkaitan dengan proses pembebasan lahan dan relokasi masyarakat yang berada di kawasan pembangunan Bendungan Pelosika. Bahkan, terdapat permukiman atau desa yang nantinya terpaksa ‘ditenggelamkan’ lantaran masuk site genangan bendungan.
Politisi Senayan asal Sultra itu meminta pemerintah memastikan seluruh hak masyarakat terdampak diselesaikan sebelum pekerjaan konstruksi dimulai. Ia menegaskan bakal memperhatikan persoalan tersebut sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Sultra. Apalagi, hampir satu dekade, Ridwan Bae telah mengawal program pembangunan Bendungan Pelosika hingga akhirnya mendapat restu dari pemerintah pusat.
“Saya sebagai perwakilan rakyat Republik Indonesia, Dapil Sultra, akan memperhatikan secara sungguh-sungguh, utamanya hak-hak masyarakat yang ada,” kata Ridwan, Rabu (23/9/2026).
Menurut politikus Golkar itu, Bendungan Pelosika harus dibangun tanpa merugikan masyarakat. Proyek yang nantinya memberi manfaat luas bagi Sultra tersebut diharapkan tetap memberikan kepastian dan perlindungan terhadap warga yang terdampak.
“Supaya Bendungan Pelosika ini berdiri tanpa mengorbankan masyarakat nantinya, dan kemudian bermanfaat kembali buat masyarakat itu sendiri,” ujar politisi Golkar itu.
Perjuangan pembangunan Bendungan Pelosika sendiri telah berlangsung sejak sekitar 2018. Ridwan Bae sempat melakukan kunjungan spesifik bersama 11 anggota Komisi V DPR RI di Kantor Gubernur Sultra pada 7 Juli 2018 khusus membahas persiapan pembangunan Bendungan Pelosika.
Kata Ridwan, proyek tersebut membutuhkan waktu panjang karena nilai investasinya yang terbilang jumbo.
“Harus disadari anggaran yang dimanfaatkan untuk pembangunan Bendungan Pelosika itu bukanlah anggaran kecil, anggaran besar. Sehingga tentu kita harus bersabar,” katanya.
Ridwan meminta pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten menyambut pembangunan tersebut dengan memastikan seluruh proses berjalan baik, termasuk penyelesaian persoalan pembebasan tanah.
Di sisi lain, masyarakat terdampak diminta bersiap menghadapi pembangunan proyek yang telah diperjuangkan cukup lama tersebut. Ridwan menilai Bendungan Pelosika nantinya akan memberi manfaat luas, termasuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
“Harapan saya kepada masyarakat siap menerima proyek ini, karena itu akan bermanfaat buat masyarakat sendiri atau bermanfaat luas. Akan tercipta lapangan kerja yang luas,” katanya.
Ridwan Bae mengatakan proses menuju pembangunan Bendungan Pelosika terus berjalan. Ia menyebut pemerintah telah memiliki sikap politik yang jelas terkait kelanjutan proyek strategis tersebut.
“Yang pasti bahwa sikap politik pemerintah untuk segera dibangun Pelosika itu sudah ada. Jalan-jalan proses menuju pelaksanaan Pelosika itu sementara berjalan,” kata Ridwan.
Menurut Ridwan, nilai awal pembangunan Bendungan Pelosika diperkirakan sekitar Rp8 triliun. Namun, angka tersebut kemudian mengalami penyesuaian menyusul perubahan harga bahan dan berbagai kebutuhan konstruksi.
“Setelah dihitung dengan kenaikan-kenaikan BBM sekarang ini dan kenaikan berbagai aspek bahan-bahan yang akan dipakai dalam pelaksanaan pembangunan Pelosika, itu diperkirakan anggaran kurang lebih Rp10 triliun,” ujarnya.
Data Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat kebutuhan anggaran pembangunan Bendungan Pelosika sekitar Rp9,8 triliun. Proyek tersebut saat ini berada pada tahap pemrograman dan disebut siap memasuki proses lelang, dengan masa pelaksanaan 2026–2030.
Politikus Golkar itu menjelaskan, dokumen terkait pembiayaan proyek sebelumnya telah melalui proses pembahasan. Namun, pergantian kepemimpinan nasional membuat negara pemberi pinjaman meminta kontrak ditinjau kembali.
Kementerian PU kemudian bersurat kepada Bappenas. Setelah mendapat tanggapan, terdapat sejumlah hal yang perlu disesuaikan, termasuk perhitungan biaya pembangunan.
“Surat itu ditarik ulang dan kembali dikontrol oleh Kementerian PU untuk disesuaikan dengan harga. Sekarang sudah selesai dan sudah dikirim kembali ke Bappenas,” kata Ridwan.
Ia menyebut proses pembentukan Green Book proyek telah berjalan. Karena itu, Ridwan meminta masyarakat menunggu tahapan selanjutnya hingga pembangunan fisik Bendungan Pelosika benar-benar dimulai.
Bendungan Pelosika nantinya memiliki kapasitas tampung total 1,117 miliar meter kubik dengan tampungan efektif mencapai 808 juta meter kubik. Luas genangannya diperkirakan mencapai 5.451,56 hektare.
Proyek ini diproyeksikan menjadi bendungan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dan Jatigede, sekaligus yang terbesar di Sultra.
Bukan hanya sebagai infrastruktur penyimpan air, Bendungan Pelosika dirancang memiliki sejumlah fungsi strategis. Salah satunya mendukung layanan irigasi seluas 20.458 hektare, yang mencakup 12.678 hektare daerah irigasi fungsional dan 7.780 hektare daerah irigasi potensial.
Ketersediaan air tersebut diharapkan meningkatkan indeks pertanaman dari 220 persen menjadi 300 persen. Dengan begitu, lahan yang sebelumnya ditanami dua kali setahun berpotensi dimanfaatkan hingga tiga kali dalam setahun.
Bendungan Pelosika dirancang menyediakan air baku sebesar 750 liter per detik bagi masyarakat Konawe. Pasokan tersebut nantinya dapat diolah melalui instalasi pengolahan air dan disalurkan lewat jaringan perpipaan, dengan cakupan layanan sekitar 540 ribu jiwa.
Dari sisi pengendalian banjir, bendungan ini ditargetkan mengurangi wilayah yang berisiko terdampak banjir dari 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare di Kabupaten Konawe. Wilayah tersebut mencakup 10 kecamatan.
Potensi energi juga menjadi bagian dari proyek tersebut. Bendungan Pelosika dirancang mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 40 MW serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 261,12 MW. Adm



