LAJUR.CO, KENDARI – Tak hanya memengaruhi pernapasan, efek buruk polusi udara juga bisa berdampak pada ginjal. Meski bukan satu-satunya penyebab penyakit ginjal kronis, polusi bisa menjadi faktor lingkungan penting yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Ginjal berperan dalam menyaring produk limbah dari darah, mengatur keseimbangan cairan, serta membantu menjaga tekanan darah.
“Partikel halus, khususnya PM2.5, dapat masuk ke aliran darah melalui paru-paru dan memicu peradangan sistemik serta stres oksidatif. Proses ini dapat merusak pembuluh darah halus di dalam ginjal, yang berpotensi memengaruhi kemampuan ginjal untuk menyaring darah secara efisien,” kata ahli nefrologi Dr Umesh Gupta, dikutip dari laman Hindustan Times.
Ia mengingatkan bahwa paparan polutan dalam jangka panjang juga dapat berkontribusi pada hipertensi dan resistensi insulin. Keduanya merupakan faktor risiko penyakit ginjal yang sudah diketahui. Seiring waktu, efek ini dapat meningkatkan beban pada ginjal dan berpotensi berkontribusi pada perkembangan atau progresi penyakit.
“Kekhawatiran ini mungkin sangat signifikan bagi orang yang sudah menderita diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, atau memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga. Lansia dan individu yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi yang tinggi secara terus-menerus juga mungkin menghadapi paparan kumulatif yang lebih besar,” katanya.
Meski demikian, dr Gupta mencatat bahwa hubungan antara polusi udara dan penyakit ginjal kronis tersebut kompleks. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan sejauh mana kontribusi langsungnya.
Selama periode kualitas udara yang buruk, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko paparannya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan di antaranya:
1. Memantau indeks kualitas udara lokal.
2. Membatasi aktivitas luar ruangan yang berat.
3. Menggunakan alat penjernih udara dengan ukuran yang sesuai jika memungkinkan.
4. Menghindari asap rokok
5. Menjaga tekanan darah dan kadar glukosa darah tetap sehat.
“Penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease atau CKD) dapat muncul secara diam-diam, dengan sedikit gejala yang terlihat pada tahap awal,” peringatkan ahli nefrologi tersebut.
“Orang dengan diabetes, hipertensi, atau faktor risiko lain yang diketahui harus berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan mereka tentang pemeriksaan yang tepat,” tambahnya. Adm
Sumber : Detik.com