BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Inflasi Sultra Tembus 4,74 Persen, Belanja Warga Makin Mahal, Ini Penjelasan BPS!

×

Inflasi Sultra Tembus 4,74 Persen, Belanja Warga Makin Mahal, Ini Penjelasan BPS!

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Pernah merasa uang belanja semakin cepat habis, padahal barang yang dibeli tidak jauh berbeda dari biasanya? Harga bahan makanan, ongkos transportasi hingga kebutuhan rumah tangga yang perlahan naik bisa menjadi salah satu penyebabnya. Kondisi tersebut ternyata sejalan dengan catatan inflasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang masih cukup tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat inflasi tahunan (y-on-y) pada Oktober 2026 mencapai 4,74 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,57. Artinya, secara umum harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat mengalami kenaikan 4,74 persen dibandingkan Oktober 2025.

Angka tersebut bahkan sudah melampaui rentang sasaran inflasi 2026 yang ditetapkan sebesar 2,5 persen ±1 persen. Dengan demikian, batas atas sasaran inflasi berada di angka 3,5 persen, sedangkan inflasi Sultra tercatat lebih tinggi 1,24 poin persentase.

Baca Juga :  Kualitas Udara Kendari Memburuk: Indeks Polusi Naik dari 30 ke 98, Kini di Level Oranye

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, melalui rilis resmi BPS Sultra, Senin (2/11/2026), menyampaikan inflasi tahunan tersebut terjadi akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau mencatat inflasi tertinggi sebesar 6,96 persen. Artinya, kenaikan harga pada kelompok kebutuhan konsumsi sehari-hari masih menjadi salah satu tekanan terbesar terhadap pengeluaran masyarakat.

Berikutnya, kelompok transportasi mengalami inflasi 6,86 persen. Kenaikan pada kelompok ini berkaitan dengan biaya transportasi yang perlu dikeluarkan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut mencatat inflasi sebesar 5,08 persen. Disusul perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,98 persen serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,27 persen.

Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok pendidikan sebesar 2,77 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,30 persen, serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,93 persen.

Baca Juga :  Pemkot Kendari Rilis Delapan Gerai Kopdes Merah Putih yang Segera Beroperasi

Sementara itu, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalami inflasi 1,50 persen, kesehatan 1,21 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,16 persen.

Inflasi yang berada di atas sasaran bukan sekadar persoalan angka statistik. Jika berlangsung tinggi, kenaikan harga dapat menggerus daya beli masyarakat karena pendapatan yang diterima tidak selalu bertambah secepat harga barang dan jasa. Akibatnya, masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan yang sama atau mengurangi belanja pada kebutuhan lainnya.

Dampaknya berpotensi lebih berat dirasakan rumah tangga berpendapatan rendah dan masyarakat dengan penghasilan tetap. Di sisi lain, perubahan harga yang sulit diprediksi dapat membuat pelaku usaha menghadapi ketidakpastian biaya produksi, distribusi, hingga penentuan harga jual. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan konsumsi, produksi, dan investasi.

Baca Juga :  Waspada! 6 Makanan Ini Picu Peradangan-Efeknya Lemak Numpuk di Perut

Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kabupaten Konawe mencatat inflasi tahunan tertinggi di Sultra, yakni 5,44 persen dengan IHK 114,51. Sementara Kota Kendari mengalami inflasi terendah sebesar 4,47 persen dengan IHK 113,56.

Meski demikian, pergerakan harga secara bulanan menunjukkan kondisi berbeda. Pada Oktober 2026, Sultra justru mengalami deflasi atau penurunan harga secara umum sebesar 0,04 persen dibandingkan September 2026. Adapun inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 4,53 persen.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga secara umum mengalami penurunan tipis dibandingkan bulan sebelumnya, tingkat harga barang dan jasa di Sultra masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Deflasi bulanan tersebut belum menghapus kenaikan harga yang telah terakumulasi selama setahun. Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *