LAJUR.CO, KENDARI – Setiap usaha yang tumbuh menyimpan harapan untuk melangkah lebih jauh dan memiliki tempat berpijak yang lebih kuat. Begitu pula perjalanan Rahmawati dan Henri Gunawan, pemilik Nabil Olshop Kendari, yang merintis bisnis dari modal Rp20 juta hingga berkembang menjadi usaha grosir dan eceran. Jejaring pelanggannya pun telah menjangkau berbagai wilayah Indonesia Timur, termasuk Maluku Utara, Sulawesi Tengah, hingga Morowali.
Seiring usaha yang kian besar, kebutuhan akan lahan milik sendiri pun semakin mendesak. Melalui kemudahan akses pembiayaan dari CIMB Niaga, pasangan ini menemukan jalan, mewujudkan impian memiliki tanah dan membangun tempat usaha sendiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada biaya sewa tahunan demi masa depan bisnis yang lebih mandiri.
Bagi Rahmawati, perjalanan membangun usaha tidak selalu dimulai dari rencana besar. Ada keberanian mengambil peluang, ketekunan melayani pelanggan, serta kesediaan menyisihkan keuntungan untuk mengembangkan bisnis sedikit demi sedikit.
Bisnis digeluti Rahmawati yang dinamai Nabil Olshop Kendari berawal dari aktivitas sederhana. Wanita berhijab ini memanfaatkan arisan kecil-kecilan sebagai pijakan awal, menerima pesanan, lalu mengantarkan barang langsung dari rumah ke rumah. Bersama sang suami, ia merintis usaha dengan modal awal Rp20 juta yang dikumpulkan secara bertahap.
“Mulanya itu kita cuma dari arisan kecil-kecilan. Dari arisan kecil-kecilan terus saya terima pesanan, antar barang rumah ke rumah,” tutur Rahmawati mengenang awal bisnis digelutinya.
Keuntungan yang diperoleh tidak langsung dinikmati seluruhnya. Sebagian diputar kembali untuk menambah persediaan barang dan memperluas jangkauan penjualan. Dari usaha rumahan, mereka mulai menyewa tempat yang lebih memadai, kemudian mengembangkan bisnis menjadi toko grosir sekaligus eceran.
“Terus kita ngontrak dari kontrakan yang kecil, terus berkembang, kita grosir. Terus kita ambil barang langsung di pabrik, di gudang pakai kontainer,” ujarnya.
Sejak mulai mengontrak tempat usaha pada 2020, Nabil Olshop terus bertumbuh mengikuti permintaan pasar. Pengadaan barang langsung dari pabrik dan gudang menjadi salah satu langkah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dalam jumlah lebih besar.
Skala bisnis pun berkembang hingga omzet yang signifikan. Pemasaran melalui media sosial, terutama Facebook, turut memperluas jangkauan pasar tanpa mengharuskan pelanggan datang langsung ke toko.
Rahmawati rutin mengunggah foto produk beserta harga agar calon pembeli mudah memilih barang. Pesanan yang masuk kemudian disiapkan untuk diambil atau dikirim kepada pelanggan.
Jangkauan distribusinya kini tidak hanya mencakup Kota Kendari, tetapi juga meluas hingga Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Morowali. Mereka bahkan mulai menjajal penjualan melalui siaran langsung atau live streaming untuk menjangkau pembeli dengan cara yang lebih interaktif.
Pertumbuhan bisnis tersebut turut membuka lapangan kerja bagi tujuh hingga delapan karyawan. Namun, di balik semakin luasnya pasar, ada kerja keras yang menuntut ketelitian dan waktu panjang.
Pengemasan barang, misalnya, harus dilakukan dengan cermat agar pesanan siap dikirim sesuai jadwal kapal. Tidak jarang Rahmawati dan timnya bekerja hingga larut malam demi memastikan barang pelanggan tiba tepat waktu.
“Lembur itu sampai jam satu malam biasanya. Lembur karena packing-an, kita kejar untuk mengirim ke kapal pagi-pagi,” katanya.
Perjalanan panjang itu membawa Nabil Olshop memasuki fase pertumbuhan baru. Persediaan barang semakin banyak, kebutuhan penyimpanan meningkat, dan tempat usaha yang ditempati mulai tidak mampu menampung seluruh aktivitas bisnis.
Bagi pasangan ini, bertambah besarnya usaha juga berarti bertambahnya kebutuhan ruang. Mereka membutuhkan tempat yang dapat mengakomodasi toko, gudang, sekaligus hunian keluarga agar kegiatan bisnis bisa dikelola lebih leluasa.
Namun, ada satu persoalan yang terus membayangi rencana pengembangan tersebut yakni biaya sewa tempat usaha.
Selama dua tahun, Rahmawati dan sang suami Henri mengeluarkan biaya sewa sebesar Rp85 juta per tahun. Jika dihitung, pengeluaran tersebut mencapai Rp170 juta selama dua tahun.
Biaya itu menjadi konsekuensi yang harus ditanggung agar bisnis tetap berjalan. Sementara itu, setelah masa kontrak berakhir, bangunan yang mereka tempati tetap bukan milik sendiri.
Pengalaman tersebut membuat Rahmawati dan Henri mulai memikirkan langkah yang lebih berjangka panjang. Mereka tidak ingin selamanya mengeluarkan biaya sewa, sementara kebutuhan ruang terus meningkat seiring perkembangan usaha.
“Kebetulan toko sudah enggak mampu menampung semua barang jadi kita pindah ke sini untuk ngontrak. Sudah dua tahun ini ngontrak, kita berpikir kita enggak mungkin ngontrak terus selamanya. Jadi kita carilah tanah yang bisa untuk tempat tinggal, gudang, sama toko,” tutur Rahmawati.
Keinginan memiliki lahan sendiri bukan semata-mata soal kepemilikan properti. Bagi Nabil Olshop, tanah menjadi fondasi untuk menata kegiatan usaha secara lebih mandiri, mulai dari penyimpanan stok, penjualan, hingga pengelolaan distribusi barang.
Dengan tempat sendiri, mereka berharap dapat mengembangkan bisnis tanpa terus dibayangi kewajiban memperpanjang kontrak. Pengeluaran rutin untuk sewa pun diharapkan bisa dialihkan menjadi cicilan pembiayaan aset yang kelak menjadi milik keluarga.
Akan tetapi, mewujudkan rencana tersebut tidak semudah membeli barang dagangan. Rahmawati dan Henri terbentur akses pembiayaan. Upaya mencari layanan kepemilikan lahan lewat kredit dari sejumlah bank buntu. Nyaris tak ada bank yang bisa melayani pinjaman modal untuk pembelian tanah kosong.
“Itu enggak ada yang bisa membiayai tanah kosong. Ada yang bisa, tapi dia pakai syarat-syarat, nah syaratnya gitu susah karena harus ngambil dulu sertifikatnya orang, harus balik nama. Kita enggak bisa,” ungkap Rahmawati.
Di tengah upaya mencari solusi, peluang datang melalui CIMB Niaga. Perkenalan dengan bank tersebut bermula dari seorang teman yang membantu memperkenalkan usaha mereka.
Kesempatan itu menjadi titik penting bagi kedua pasutri itu. Kebutuhan pembiayaan mereka bukan sekadar tambahan modal kerja, melainkan akses untuk memiliki tanah yang dapat dikembangkan menjadi tempat tinggal sekaligus lokasi usaha.
“Alhamdulillah di CIMB kita dibantu, dipermudah. Dia kasih kita jalan, kasih kita cara sampai itu tanah bisa kita ambil,” kata Rahmawati.
Menurutnya, proses pengajuan turut didukung survei lokasi serta pemeriksaan dokumen tanah. Pihak bank meninjau lahan yang akan dibeli dan memeriksa kelengkapan berkas, termasuk sertifikat kepemilikan.
“Kalau niatnya untuk ambil tanah, kita langsung sampaikan memang dan langsung disurvei. Tanah yang mau dibeli yang mana, alamatnya di mana, dilihat sertifikatnya, kelengkapan semua berkasnya. Surveinya cepat,” ujarnya.
Kemudahan akses tersebut memberi harapan bagi pasangan ini untuk melanjutkan rencana kepemilikan aset. Setelah bertahun-tahun mengembangkan bisnis dari tempat sewaan, mereka memiliki peluang untuk membangun ruang usaha yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Bagi Henri, dukungan CIMB Niaga juga terasa dari sisi penawaran pembiayaan. Sebelum mengambil keputusan, ia mengaku membandingkan bunga kredit dari beberapa bank dengan jumlah pinjaman yang setara.
“Kalau untuk soal bunga CIMB, kita perbandingkan juga dengan bank lain, dia masih agak di bawah. Kebetulan ada juga teman di bank lain, kita sudah tanya-tanya soal harga itu dengan jumlah pinjaman yang sama, itu beda jauh,” ungkap Henri.
Ia menyebut pembiayaan yang diambil memiliki tenor empat tahun. Bagi keluarga tersebut, skema ini menjadi bagian dari ikhtiar mengalihkan pengeluaran sewa menuju kepemilikan aset yang dapat menunjang keberlanjutan usaha.
“Kalau kita tidak dibantu dengan proses pembelian tanah kemarin dari Bank CIMB, mungkin tahun ini kita masih lanjut ngontrak,” katanya.
Branch Manager CIMB Niaga Kendari Laode Zardin menjelaskan CIMB Niaga melalui layanan pembiayaan properti naik baik konvensional maupun syariah memang bisa menjadi solusi bagi UMKM yang hendak melakukan pembelian tanah kavling untuk ekspansi usaha. CIMB Niaga menjadi satu-satunya lembaga perbankan diakui punya lini bisnis kredit khusus melayani pembelian kavling tanah kosong.
Menurut Zardin, fasilitas kredit pembelian tanah kosong tersebut di Kota Kendari mulai berjalan pada Mei 2025. Luas lahan yang dapat dibiayai untuk pembelian tanah dibatasi maksimal 1.000 meter persegi.
Fasilitas kredit dapat diajukan oleh pegawai maupun pemilik usaha. Penilaian kemampuan membayar disesuaikan dengan profil pemohon. Bagi pegawai, analisis didasarkan pada penghasilan, sedangkan bagi pemilik usaha, penilaian mempertimbangkan hasil dan kondisi bisnis.
Pemohon juga perlu memenuhi persyaratan kredit serta kelengkapan dokumen legalitas tanah, termasuk sertifikat hak milik dan dokumen pajak bumi dan bangunan. Persyaratan administrasi lain, seperti identitas pribadi dan dokumen usaha bagi pelaku UMKM, turut menjadi bagian dari proses pengajuan.
Ia menjelaskan, fasilitas tersebut memberi alternatif bagi nasabah yang membutuhkan tanah untuk menunjang kehidupan sekaligus kegiatan ekonomi keluarga. Dalam skema yang dijelaskan, tanah dapat dikembangkan menjadi tempat tinggal sekaligus lokasi usaha, dengan tetap mengikuti ketentuan peruntukan dan pembiayaan yang berlaku.
Adapun tenor pembiayaan dapat mencapai maksimal 15 tahun, bergantung pada hasil analisis dan persetujuan kredit.
Bagi pelaku UMKM, akses semacam ini menjadi relevan ketika perkembangan bisnis mulai menuntut ruang yang lebih luas dan permanen. Selama ini, kebutuhan tempat usaha sering kali dipenuhi melalui sewa, yang mengharuskan pengusaha menyiapkan biaya secara berkala tanpa menambah kepemilikan aset.
Melalui pembiayaan kepemilikan tanah, kebutuhan tersebut dapat direncanakan sebagai bagian dari pengembangan usaha jangka panjang. Tanah dan bangunan dapat menjadi pijakan untuk memperbaiki pengelolaan stok, menata tempat penjualan, serta meningkatkan kapasitas operasional sesuai kemampuan bisnis.
Kisah Nabil Olshop memperlihatkan jika kebutuhan pelaku usaha berubah seiring pertumbuhan bisnis. Ketika baru memulai, modal digunakan untuk membeli barang dagangan. Saat pelanggan bertambah dan pasar meluas, kebutuhan berikutnya bergeser pada kepemilikan aset yang mendukung kegiatan usaha.
Di titik inilah akses pembiayaan berperan sebagai penghubung antara kebutuhan UMKM dan peluang untuk tumbuh lebih mandiri.
Dukungan pembiayaan CIMB Niaga sendiri kini membawa Rahmawati dan Henri selangkah lebih dekat menuju kemandirian usaha. Setelah bertahun-tahun mengembangkan bisnis dari tempat sewaan, pasangan ini bersiap menempati bangunan milik sendiri pada akhir 2026.
Bagi mereka, momen tersebut bukan sekadar perpindahan toko. Ada harapan untuk mengakhiri pengeluaran sewa tahunan Rp85 juta dan mengalihkannya menuju kepemilikan aset yang dapat menunjang pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
Tanah dan bangunan yang disiapkan untuk hunian, toko, sekaligus gudang itu menjadi pijakan baru bagi Nabil Olshop untuk terus berkembang. Ruang yang lebih memadai diharapkan membantu pengelolaan stok dan distribusi barang, sekaligus memberikan keleluasaan bagi keluarga untuk mengatur kegiatan usaha.
“Kalau kita tidak dibantu dengan proses pembelian tanah kemarin dari Bank CIMB, mungkin tahun ini kita masih lanjut ngontrak,” tutur Henri.
Rencana menempati bangunan sendiri pada penghujung 2026 menjadi babak baru perjalanan Nabil Olshop. Dari usaha bermodal Rp20 juta, Rahmawati dan Henri kini bersiap melanjutkan bisnis dengan fondasi yang lebih kuat: tempat usaha milik sendiri dan peluang untuk tumbuh lebih mandiri.
Bagi Rahmawati, perubahan tersebut juga membawa ketenangan tersendiri. Selama ini, biaya sewa menjadi pengeluaran besar yang harus terus disiapkan agar kegiatan usaha tetap berjalan. Dengan rencana memiliki tempat sendiri, ia berharap hasil kerja keras selama bertahun-tahun bisa memberi manfaat lebih panjang bagi keluarga dan bisnis.
“Alhamdulillah sudah lega karena sudah enggak berpikir untuk biaya ngontrak. Biaya ngontrak, kan, itu cuma kosong hasilnya. Kalau kita mencicil, kan, sudah ada yang kita miliki. Alhamdulillah CIMB dia bantu kita, dia permudah kita dalam semua prosesnya,” ungkap Rahmawati.
Ungkapan itu merangkum arti penting kepemilikan lahan bagi pengusaha yang sedang bertumbuh. Kemandirian bukan berarti seluruh tantangan bisnis selesai, melainkan tersedianya pijakan yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Kisah Nabil Olshop adalah realitas dihadapi banyak UMKM di Indonesia. Akses pasar, pengelolaan modal, ketersediaan ruang usaha, dan dukungan pembiayaan turut membentuk peluang bagi bisnis untuk naik kelas.
Dari modal Rp20 juta yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, Rahmawati dan Henri membangun usaha melalui ketekunan dan keberanian mengambil peluang. Dukungan pembiayaan untuk memperoleh tanah menjadi bagian lain dari perjalanan tersebut, ketika kebutuhan bisnis berkembang melampaui kemampuan tempat sewa.
Kisah Nabil Olshop menunjukkan bagaimana akses pembiayaan dapat membantu pelaku UMKM merencanakan pertumbuhan dengan lebih berorientasi jangka panjang.
Bagi Rahmawati dan Henri, memiliki lahan sendiri bukan sekadar berpindah alamat. Itu adalah langkah menuju kemandirian, tempat hasil kerja keras selama bertahun-tahun dapat terus dikembangkan dan menjadi pijakan bagi masa depan usaha keluarga.
Perjalanan Nabil Olshop menggambarkan jika pertumbuhan UMKM tidak berhenti pada peningkatan penjualan dan perluasan pasar. Ketika usaha berkembang, kebutuhan untuk memiliki fondasi bisnis yang lebih kuat turut menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kemandirian.
Selama 71 tahun hadir di Indonesia, CIMB Niaga berhasil meramu fitur kredit yang relevan dengan kebutuhan bisnis UMKM saat ini. Dukungan tersebut memungkinkan CIMB Niaga bertumbuh bersama pelaku usaha untuk membangun Indonesia bersama UMKM, termasuk mendukung perjalanan Nabil Olshop dalam mengembangkan bisnis dan membangun kemandirian usaha.
Laporan: Siti Marlina





