LAJUR.CO, KENDARI – Kebiasaan yang dilakukan pada pagi hari dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan jantung.
Jam-jam pertama setelah bangun tidur merupakan periode ketika sistem kardiovaskular bekerja paling keras karena tubuh sedang bertransisi dari kondisi istirahat menuju aktivitas penuh.
Dokter spesialis jantung sekaligus founder Laguna Institute of Functional Medicine, Sanjay Bhojraj, menjelaskan bahwa pada pagi hari kadar hormon kortisol meningkat, tekanan darah naik, dan variabilitas denyut jantung menurun. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa risiko kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung dan kematian jantung mendadak cenderung mencapai puncaknya dalam beberapa jam pertama setelah seseorang bangun tidur.
Karena itu, ia menilai apa yang dikonsumsi, diminum, hingga tingkat stres yang dialami pada pagi hari memiliki pengaruh yang lebih besar daripada yang disadari banyak orang. Setelah lebih dari dua dekade berpraktik sebagai ahli jantung, ia mengaku memiliki sejumlah kebiasaan yang selalu dihindari sebelum pukul 09.00 pagi.
Kebiasaan pertama yang dihindarinya adalah mengonsumsi minuman kopi manis dengan tambahan perasa. Menurutnya, satu gelas latte berukuran besar dapat mengandung 30 hingga 50 gram gula bahkan sebelum seseorang menyantap makanan utama.
Lonjakan gula darah yang cepat dapat memicu peningkatan insulin dan berkontribusi terhadap stres metabolik dalam jangka panjang. Selain itu, konsumsi minuman semacam itu juga dapat membuat seseorang lebih cepat merasa lapar kembali dalam waktu singkat.
Kebiasaan kedua adalah mengonsumsi pastry saat sarapan, seperti croissant, muffin, atau danish. Makanan tersebut umumnya terdiri dari karbohidrat olahan dan lemak jenuh dengan kandungan serat maupun protein yang minim.
Kombinasi tersebut menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat diikuti penurunan energi dalam waktu singkat. Siklus naik-turun yang berulang dinilai tidak ideal bagi kesehatan jantung, terutama pada pagi hari.
Hal berikutnya yang dihindari adalah konsumsi daging olahan untuk sarapan, seperti bacon, sosis, dan ham. Produk-produk tersebut umumnya tinggi sodium dan lemak jenuh serta sering mengandung bahan pengawet seperti nitrat.
Menurutnya, konsumsi sesekali tidak menjadi masalah. Namun risiko kesehatan dapat meningkat apabila makanan tersebut dikonsumsi setiap pagi dalam jangka panjang.
Kebiasaan lain yang menjadi pantangan adalah mengonsumsi minuman energi. Ia menegaskan bahwa minuman jenis ini sering kali mengandung kadar kafein dan gula yang tinggi serta berbagai zat stimulan tambahan.
Kandungan tersebut dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, bahkan memicu gangguan irama jantung pada sebagian orang. Risiko itu dinilai lebih besar jika dikonsumsi segera setelah bangun tidur ketika tubuh secara alami sedang meningkatkan aktivitasnya.
Selain itu, ia juga tidak menyarankan memulai hari tanpa makan, terutama jika kondisi tersebut disertai stres dan konsumsi kafein. Meski puasa intermiten dapat dilakukan secara sehat, banyak orang sebenarnya hanya melewatkan sarapan sambil tetap mengandalkan kopi dan tekanan pekerjaan.
Ia mengaku sering menemui pasien yang hanya mengandalkan adrenalin, meminum kopi saat perut kosong, langsung membaca email pekerjaan, dan mengonsumsi obat tanpa makanan. Kondisi tersebut membuat sistem saraf menjadi terlalu terstimulasi dan kadar gula darah berfluktuasi secara tajam sebelum pukul 10 pagi.
Menurutnya, seiring bertambahnya usia tubuh menjadi semakin kurang toleran terhadap perubahan ekstrem tersebut. Karena itu, rutinitas pagi yang mencakup hidrasi, nutrisi yang cukup, dan waktu untuk beradaptasi dengan aktivitas harian dapat membantu tubuh bekerja lebih optimal.
Untuk menjaga kesehatan jantung, ia mengaku menerapkan pola sarapan sederhana yang berfokus pada protein, serat, dan hidrasi. Menu yang sering dikonsumsinya antara lain telur dengan buah, keju cottage dengan beri dan kenari, yogurt Yunani, atau oatmeal dengan tambahan biji chia.
Ia juga membiasakan diri minum air putih sebelum mengonsumsi kopi. Menurutnya, kafein sebaiknya tidak menjadi sinyal pertama yang diterima tubuh saat memulai hari.
Selain pola makan, ia menekankan pentingnya menjaga sistem saraf tetap tenang pada pagi hari. Aktivitas sederhana seperti bernapas perlahan selama beberapa menit, berjemur di bawah sinar matahari pagi, melakukan peregangan, atau berjalan kaki singkat dapat membantu tubuh bertransisi lebih baik menuju aktivitas harian.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum melakukan perubahan besar pada pola makan atau rutinitas harian. Ia menegaskan bahwa pagi yang terburu-buru dan penuh tekanan dapat memengaruhi fisiologi tubuh, sehingga memulai hari dengan lebih tenang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung dalam jangka panjang. Adm
Sumber : Cnbcindonesia.com



