LAJUR.CO, KENDARI — Dunia seni dan kebudayaan Indonesia kehilangan Guruh Soekarnoputra. Maestro seni yang dikenal melalui karya tari, musik, koreografi, dan kiprahnya dalam mengembangkan kebudayaan Nusantara itu meninggal dunia pada 2 November 2025 dalam usia 73 tahun.
Putra Presiden pertama RI Soekarno tersebut meninggalkan perjalanan panjang di dunia seni. Karyanya banyak bersentuhan dengan kekayaan budaya Indonesia, termasuk tradisi dan kesenian daerah yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Jejak Guruh pun pernah tercatat di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dikutip dari laman Detiktravel, pada 3 Desember 2018, putra bungsu pasangan Presiden pertama RI, Soekarno, dan Ibu Fatmawati itu datang ke Kota Kendari bersama Paguyuban Rakyat Indonesia Raya (Paraindra) itu hadir menginisiasi panggung Pesta Raya Samudera di kawasan Teluk Kendari.
Perhelatan tersebut menghadirkan sejumlah kesenian khas Sultra, termasuk tari Lulo dan berbagai persembahan budaya lokal. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya Paraindra memperkenalkan sekaligus menghidupkan kembali ruang-ruang kebudayaan di tengah masyarakat.
Saat itu, Guruh melihat pengelolaan seni dan budaya di Indonesia masih belum maksimal. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Paraindra menggelar Pesta Raya Samudera di Teluk Kendari.
“Melihat kondisi budaya saat ini, yang dikelola belum cukup maksimal, maka ini menjadi alasan Paraindra untuk menyelenggarakan suatu perhelatan yang diberi nama Pesta Raya Samudera di Teluk Kendari,” kata Guruh ketika itu.
Kendari dipilih sebagai lokasi kegiatan karena komunikasi antara Paraindra dan masyarakat Kota Kendari disebut telah terjalin cukup baik. Ruang tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mempertemukan masyarakat dengan beragam ekspresi seni dan budaya daerah.
Bagi Guruh, kebudayaan tidak sebatas tari, musik, pakaian adat, atau pertunjukan di atas panggung. Ia memandang kebudayaan dalam arti luas sebagai produk pikiran dan budi manusia yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Pandangan itu pula yang menjadi pijakan Paraindra dalam menjalankan gerakan kebudayaannya. Guruh menyebut organisasi tersebut berpijak pada basis kebudayaan masyarakat Indonesia dalam mengonsolidasikan kedaulatan rakyat serta merespons berbagai pengaruh dunia dan kebijakan negara.
Menurut Guruh, masyarakat membutuhkan ruang untuk mewujudkan gagasan dan mengembangkan kebudayaannya sendiri. Karena itu, kegiatan seperti Pesta Raya Samudera tidak hanya ditempatkan sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan masyarakat.
“Untuk itu Paraindra ini adalah wadah bagi masyarakat untuk mewujudkan, serta dengan aspek-aspek inilah yang harus diperjuangkan menuju kedaulatan rakyat secara baik dan benar,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Guruh juga menyampaikan cita-cita untuk mendorong terbentuknya tatanan masyarakat yang adil dan makmur melalui gerakan kebudayaan.
“Dengan keadilan yang berkemakmuran itulah masyarakat Indonesia dengan segala bentuk budayanya akan berperan penting dalam mewujudkan cita-cita terbentuknya Indonesia Raya di masa depan,” kata Guruh.
Meski Pesta Raya Samudera di Teluk Kendari berlangsung menjelang Pemilu 2019. Namun, Guruh menegaskan kegiatan tersebut tidak memiliki unsur politik, khususnya berkaitan dengan Pilpres 2019. Fokus kegiatan, kata dia, adalah kebudayaan dan masyarakat.
Kehadiran tari Lulo dan berbagai kesenian lokal Sultra dalam acara tersebut menjadi bagian penting dari konsep yang dibawa Guruh. Seni tradisi daerah ditempatkan sebagai kekayaan yang dapat menjadi bagian dari panggung kebudayaan Indonesia.
Bagi Kendari, kehadiran Guruh pada 2018 menjadi salah satu catatan dalam perjalanan kebudayaan kota tersebut. Teluk Kendari yang menjadi lokasi kegiatan kala itu tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertunjukan, tetapi juga ruang pertemuan antara gagasan Guruh dengan ekspresi budaya masyarakat Sulawesi Tenggara.
Kini, Guruh telah berpulang. Namun, perjalanan dan karya-karyanya tetap menjadi bagian dari catatan seni Indonesia. Jejaknya di Sulawesi Tenggara menjadi salah satu kepingan dari perjalanan panjang seorang seniman yang menjadikan kebudayaan sebagai bagian penting dalam melihat Indonesia.
Pesta Raya Samudera di Teluk Kendari pada 2018 mungkin hanya berlangsung sehari. Namun bagi masyarakat yang pernah menyaksikannya, kegiatan itu menjadi salah satu momen ketika nama besar Guruh Soekarnoputra hadir langsung di tengah panggung kebudayaan Sultra. Adm



