?>
BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Impor Peralatan Proyek Smelter Bikin Bea Masuk di Sultra Melesat Rp358,62 Miliar

×

Impor Peralatan Proyek Smelter Bikin Bea Masuk di Sultra Melesat Rp358,62 Miliar

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI — Impor peralatan untuk proyek pembangunan smelter ikut mengerek penerimaan Bea Masuk di Sultra. Hingga 31 Agustus 2026, penerimaan Bea Masuk mencapai Rp358,62 miliar, melonjak 124,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sultra, Imam Widhiyanto, mengatakan peningkatan penerimaan kepabeanan tersebut didorong antara lain oleh aktivitas impor peralatan pembangunan smelter di Sultra.

“Penerimaan Kepabeanan sampai dengan 31 Agustus 2026 disumbang oleh Bea Masuk sebesar Rp358,62 miliar, tumbuh 124,37 persen (y-on-y),” kata Imam Widhiyanto, Senin (28/9/2026).

Berdasarkan laporan APBN KiTa Regional Sultra Edisi September 2026, penerimaan kepabeanan secara keseluruhan mencapai Rp359,21 miliar hingga akhir Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 124,36 persen secara tahunan.

Laporan tersebut secara khusus mencatat pertumbuhan penerimaan kepabeanan itu didorong importasi peralatan pembangunan smelter di Sultra.

Capaian penerimaan Bea dan Cukai pada KPPBC TMP C Kendari bahkan telah mencapai 224,75 persen dari target tahunan.

Baca Juga :  Spannaa ja voita casinon parhaissa peleissä

Lonjakan Bea Masuk tersebut berlangsung di tengah masifnya aktivitas industri pengolahan mineral di Sultra. Sejumlah perusahaan tambang dan industri pengolahan nikel tengah menggenjot produksi sekaligus pembangunan fasilitas smelter, termasuk perusahaan yang beroperasi di kawasan Kabupaten Kolaka.

Aktivitas tersebut antara lain melibatkan perusahaan seperti PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) dan PT Vale Indonesia Tbk, di samping pelaku industri lainnya yang mengembangkan rantai pasok pengolahan nikel di Sultra.

Namun, data DJPb yang dirilis dalam APBN KiTa Regional Sultra tidak merinci kontribusi masing-masing perusahaan terhadap penerimaan Bea Masuk. Karena itu, kenaikan tersebut tercatat sebagai dampak dari aktivitas importasi peralatan pembangunan smelter secara keseluruhan.

Kinerja kepabeanan tersebut turut menopang pertumbuhan penerimaan perpajakan di Sultra. Hingga 31 Agustus 2026, realisasi penerimaan perpajakan mencapai Rp2,999 triliun, tumbuh 46,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerimaan tersebut terdiri atas pajak dalam negeri sebesar Rp2,640 triliun yang tumbuh 39,47 persen serta penerimaan kepabeanan sebesar Rp359,21 miliar.

Baca Juga :  20 Calon PMI Sultra Ikuti Interview Kerja Sawit Malaysia, PT Nusa Sinar Makmur Gandeng BP3MI Pastikan Prosedur Legal

Sejumlah komponen pajak dalam negeri juga mencatat pertumbuhan tinggi. Pajak Bumi dan Bangunan tumbuh 160,82 persen, Pajak Lainnya meningkat 148,60 persen, sedangkan Pajak Pertambahan Nilai tumbuh 57 persen secara tahunan.

Di sisi lain, penerimaan Cukai masih mengalami kontraksi sebesar 13,37 persen. Pajak Penghasilan juga hanya tumbuh 1,24 persen secara tahunan.

Secara keseluruhan, Pendapatan Negara dan Hibah di Sultra hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp3,70 triliun, atau 69,24 persen dari target Rp5,35 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 41,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Sultra mencapai Rp703,19 miliar atau 96,74 persen dari target. PNBP tersebut tumbuh 24,15 persen secara tahunan.

Pertumbuhan penerimaan negara itu berjalan beriringan dengan ekspansi aktivitas ekonomi dan industri di Sultra. Pada triwulan II 2026, ekonomi Sultra tumbuh 6,19 persen secara tahunan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp55,37 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp31,22 triliun.

Baca Juga :  Euforia HUT RI Berubah Jadi Malapetaka, Dua Siswa SMA 5 Kendari Terkena Busur

Di sektor pertambangan dan pengolahan mineral, pembangunan smelter menjadi bagian penting dari perkembangan industri Sultra. Sejumlah proyek pengolahan nikel terus dikembangkan, terutama di kawasan industri yang menjadi basis hilirisasi mineral.

Kolaka menjadi salah satu kawasan yang mendapat dorongan investasi tersebut. Aktivitas pembangunan fasilitas pengolahan dan kebutuhan peralatan pendukung menjadi bagian dari dinamika industri yang ikut tercermin dalam arus impor.

Meski demikian, data penerimaan kepabeanan DJPb Sultra tidak memisahkan nilai impor berdasarkan perusahaan maupun proyek smelter tertentu. Yang tercatat, importasi peralatan pembangunan smelter secara keseluruhan menjadi faktor yang mendorong penerimaan kepabeanan.

Dengan realisasi Bea Masuk mencapai Rp358,62 miliar hingga akhir Agustus 2026, penerimaan tersebut tumbuh 124,37 persen secara tahunan. Lonjakan ini menjadi salah satu gambaran bagaimana aktivitas pembangunan fasilitas pengolahan mineral ikut tercermin dalam kinerja penerimaan negara di Sultra. Adm

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>