SULTRABERITA.ID, KENDARI – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menyebut angka kasus baru pasien positif belum menunjukkan penurunan atau peningkatan yang konsisten.
Angka kasus baru per harinya, kata dia, terkadang berkurang dan bertambah signifikan. Dari situ, pihaknya tidak mau menebak-nebak soal waktu menurunnya grafik kasus baru.
BACA JUGA:
- Breaking News! BI Rate Naik 25 Basis Poin Jadi 5,50%
- Buruan Daftar! Kuota Fakultas Kedokteran UM Kendari Masih Ada 25 Seat Lagi
- Pengelola Wakatobi Dive Resort Usir Warga Lokal Tomia yang Bawa Turis Prancis Saat Mau Nyelam di Pulau Lorens
- Koltim Berduka, Alumni IPDN Eks Sekda Andi Muh Iqbal Tongasa Tutup Usia di RS Hermina Kendari
- Catat! 3.489 Calon Mahasiswa Baru UHO Lulus UTBK Tak Dibolehkan ‘Double’ Ikut Seleksi Mandiri Lagi
“Masih belum terbentuk pola grafik yang konsisten yang susah untuk kami tebak dari hari ke harinya,” kata Yuri, sapaan akrab Achmad Yurianto, dalam keterangan resmi yang disampaikan di akun Youtube BNPB Indonesia, Minggu (10/5).
Menurut Yuri, fluktuasi kasus baru hanya menandakan penularan virus masih terjadi di masyarakat. Per Minggu ini saja, kasus baru tercatat sebanyak 387.
“Saudara-saudara sekalian, ini sebagai gambaran yang bisa kami maknai bahwa proses penularan di luar, di tengah-tengah masyarakat masih saja terus terjadi,” lanjut dia.
Menurut dia, proses penularan yang terjadi belakangan ini menunjukkan perbedaan gejala klinis.
Pada awal-awal temuan kasus di Indonesia, seseorang memiliki gejala seperti suhu tubuh di atas 38 derajat celsius ketika terjangkiti COVID-19.
Selain itu, seseorang juga mengalami batuk, pilek dan sesak nafas ketika terjangkiti COVID-19.
Namun, gejala itu berubah pada penularan sekarang ini. Beberapa kasus positif justru memperlihatkan bahwa tidak terdapat lagi gejala-gejala tersebut.
“Dalam perkembangannya gambaran ini sudah tidak lagi menjadi ciri khas dari orang yang membawa atau di dalam tubuhnya terinfeksi COVID-19,” ungkap dia.
“Kami banyak menemukan orang yang di dalam tubuhnya ada COVID-19 yang ditandai dengan pemeriksaan PCR positif dengan gejala yang sangat ringan, tidak panas, tidak batuk, sehingga memberikan gambaran seperti orang tidak sakit,” ucap dia.
Menurut dia, pemerintah telah menamai pasien positif yang tidak bergejala dengan Orang Tanpa Gangguan (OTG).
Kategori ini yang berbahaya karena bisa membawa virus ke kelompok rentan, seperti orang tua dan orang dengan penyakit bawaan.
“Oleh karena itu konsisten pemerintah sejak dari awal untuk memutuskan rantai penularan ini. Maka yang pertama harus melindungi diri masing-masing dengan cara menggunakan masker, dengan cara mencuci tangan dengan menggunakan sabun di air yang mengalir, dengan cara membatasi untuk keluar rumah, dan menghindari kerumunan,” timpal dia. Adm
Sumber: jpnn.com
Judul: https://m.jpnn.com/news/kelompok-otg-corona-bisa-ada-di-mana-saja-jangan-anggap-remeh-imbauan-pemerintah?page=2




