LAJUR.CO, KENDARI – Perubahan musim membuat masyarakat Sultra perlu mulai menyesuaikan aktivitas sehari-hari, terutama di wilayah yang telah memasuki periode kering. Kondisi ini diperkirakan semakin terasa saat puncak musim kemarau tiba dalam beberapa pekan mendatang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Sultra berlangsung pada September 2026. Dari 19 Zona Musim (ZOM) yang dipantau, sebanyak 18 zona atau sekitar 90 persen diperkirakan mencapai puncak kemarau pada bulan tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Sultra, Kusairi, mengatakan hingga monitoring dasarian III Juli 2026, sebanyak 18 dari total 19 ZOM di Sultra telah memasuki musim kemarau.
Ke-18 ZOM tersebut mencakup seluruh wilayah Baubau, Bombana, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Kendari, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Muna, Muna Barat, dan Wakatobi, serta sebagian wilayah Konawe.
“Jadi di Sultra sampai dengan monitoring dasarian III, kita ada 19 ZOM. Nah, dari 19 ZOM ini sampai update terakhir dasarian III bulan Juli, itu sudah 18 zona yang memasuki musim kemarau,” ujar Kusairi kepada awak Lajur, Kamis (13/8/2026).
Sementara itu, satu ZOM yang belum memasuki musim kemarau berada di wilayah Konawe Utara. Menurut Kusairi, daerah tersebut diperkirakan baru memasuki musim kemarau pada akhir Agustus 2026.
Dengan kondisi tersebut, BMKG memperkirakan sekitar 90 persen wilayah atau 18 ZOM di Sultra akan mengalami puncak musim kemarau pada September 2026. Sementara Konawe Utara diprediksi baru mencapai puncak kemarau pada awal Oktober.
Kusairi menjelaskan, puncak musim kemarau merupakan periode ketika curah hujan berada pada titik terendah berdasarkan akumulasi tiga dasarian berturut-turut.
“Jadi ada variasi musim kemarau, yaitu sebagian besar 90 persen di bulan September, kemudian 10 persen di bulan Oktober,” jelasnya.
Selain waktu puncaknya yang berbeda, durasi musim kemarau di Sultra juga bervariasi. BMKG memperkirakan musim kemarau berlangsung antara 13 hingga 21 dasarian atau sekitar empat hingga tujuh bulan.
“Jadi musim kemarau itu kita bervariatif antara 13 sampai 21 dasarian, jadi antara 4 bulan sampai 7 bulan,” kata Kusairi.
Sejumlah wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau paling panjang, dengan durasi sekitar 19 hingga 21 dasarian atau enam hingga tujuh bulan. Wilayah tersebut meliputi Bombana, Buton Selatan, Buton Tengah, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Selatan, Muna, dan Wakatobi.
Di tengah periode kering tersebut, kondisi cuaca Sultra juga dipengaruhi fenomena El Nino. Berdasarkan monitoring dasarian III Juli 2026, indeks Nino 3.4 tercatat sebesar +2,45, yang menunjukkan kondisi El Nino kuat.
Kusairi menyebut terdapat potensi El Nino berkembang menjadi kategori sangat kuat hingga akhir 2026. Namun, ia menegaskan musim kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena yang berbeda.
Menurutnya, musim kemarau merupakan bagian dari siklus musim di Indonesia, sedangkan El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi akibat perubahan suhu muka laut di kawasan Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia.
“Naah, ini potensi El Nino-nya akan menjadi sangat kuat sampai akhir tahun. Karena El Nino berbarengan dengan musim kemarau, kejadian yang berbarengan ini menyebabkan musim kemaraunya jadi lebih lama,” tutur Kusairi.
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat tidak panik menghadapi kondisi tersebut. Masyarakat diminta tetap mengikuti perkembangan cuaca dan iklim melalui informasi dari instansi resmi.
Kusairi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya, terutama terkait prediksi cuaca dan iklim.
“Jangan mudah terbawa atau terprovokasi dari informasi-informasi yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu diharapkan tetap meng-update informasi atau follow akun kami @infoiklimsultra,” ungkapnya.
Dengan sebagian besar wilayah Sultra diprediksi mencapai puncak kemarau pada September, masyarakat diharapkan dapat mengantisipasi periode kering sejak dini, terutama dalam pengelolaan kebutuhan air dan aktivitas yang berkaitan dengan kondisi cuaca.
Laporan: Ika Astuti



