BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Kolaka Jadi Jawara Investasi Sultra, 5 Perusahaan Ini Pegang Rekor Investasi Tertinggi Semester I 2026

×

Kolaka Jadi Jawara Investasi Sultra, 5 Perusahaan Ini Pegang Rekor Investasi Tertinggi Semester I 2026

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Geliat investasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) sepanjang Semester I 2026 tak lepas dari aktivitas sejumlah perusahaan berskala besar, terutama di sektor pertambangan dan pengolahan mineral. Data realisasi investasi DPM-PTSP Sultra menunjukkan investasi yang masuk ke Bumi Anoa sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai Rp18,5 triliun.

Nominal tersebut merupakan akumulasi realisasi investasi Triwulan I dan II 2026. Capaian itu setara 51,22 persen dari target investasi Sultra tahun ini sebesar Rp36,22 triliun.

Dari total itu, Kabupaten Kolaka menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar, yakni Rp11,51 triliun. Posisi berikutnya ditempati Konawe Utara Rp3,01 triliun, Konawe Rp2,01 triliun, Kota Kendari Rp701,35 miliar, dan Bombana Rp482,68 miliar.

Kepala PTSP Sultra La Ode Nur Jaya mengatakan Kolaka menjadi daerah dengan angka investasi paling subur secara nominal pada Semester I 2026.

“Lima daerah dengan angka investasi tertinggi secara nominal pada Semester I 2026 di Sultra yaitu Kabupaten Kolaka sebesar Rp11,51 triliun, Konawe Utara Rp3,01 triliun, Konawe Rp2,01 triliun, Kota Kendari Rp701,35 miliar, dan Bombana Rp482,68 miliar,” kata La Ode saat diwawancarai Selasa (18/8/2026).

Baca Juga :  Beasiswa LPDP 2026 Dibuka: Putra-Putri Sultra Berpeluang Kuliah S2 & S3 Gratis, TOEFL UHO Berlaku

Tingginya investasi Kolaka tak lepas dari geliat perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan hilirisasi nikel. Dari sejumlah perusahaan yang berinvestasi di daerah tersebut, PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI) berada di posisi teratas dalam hal nilai investasi.

Di bawah KNI, terdapat PT Vale Indonesia yang menempati urutan kedua. Berikutnya PT Ceria Metalindo Prima (CMI) di posisi ketiga, disusul PT Huaxing Nickel Indonesia pada urutan keempat dan PT Pamapersada Nusantara di posisi kelima.

Kelima perusahaan tersebut memiliki kegiatan usaha yang berkaitan dengan pertambangan mineral logam serta pengembangan industri pengolahan nikel di Kolaka.

PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI) beraktivitas di kawasan Pomalaa, Kolaka, dan terlibat dalam pengembangan proyek hilirisasi nikel di Blok Pomalaa.

Sementara PT Vale Indonesia Tbk mengembangkan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka. Dalam pengembangan proyek hilirisasi tersebut, PT Vale diketahui bermitra dengan PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI) untuk mengembangkan pengolahan nikel di Blok Pomalaa. Kemitraan tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem hilirisasi nikel di Pomalaa, yang mencakup kegiatan pertambangan hingga pengolahan mineral.

Baca Juga :  Warga Kota Kendari, Baubau & Kolaka Terbanyak Kena Tipu Transaksi Keuangan, Modusnya Jual Beli Online

Kemudian PT Ceria Metalindo Prima (CMP) mengembangkan fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel (smelter) di Kecamatan Wolo, Kolaka. Perusahaan ini menjadi bagian dari pengembangan industri hilirisasi nikel, termasuk fasilitas pengolahan menggunakan teknologi RKEF serta pengembangan teknologi HPAL.

Berikutnya, PT Huaxing Nickel Indonesia beroperasi di kawasan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan menjadi bagian dari ekosistem industri pengolahan nikel di Pomalaa.

Adapun PT Pamapersada Nusantara merupakan perusahaan kontraktor pertambangan yang menjalankan kegiatan operasional pertambangan, termasuk mendukung aktivitas industri mineral di Kolaka.

Nurjaya berharap kontribusi perusahaan tidak berhenti pada nilai investasi, tetapi berlanjut pada peningkatan produksi dan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Harapan kita bukan hanya lima perusahaan ini. Perusahaan lain di sektor pertambangan yang sudah berinvestasi juga diharapkan terus menggenjot produksinya agar berdampak pada kemajuan Sultra,” ujar Nurjaya.

Baca Juga :  Pertamina Trans Kontinental Gaet Komunitas Masyarakat Lindungi Ekosistem Laut di Sulawesi

Ia mengatakan pemerintah juga terus memantau kepatuhan perusahaan dalam menyampaikan laporan kegiatan usaha.

“Selama ini kami pantau mereka tertib dan tidak pernah alpa dalam menyampaikan laporan kegiatan usahanya setiap triwulan,” kata Nurjaya.

Ia menguraikan, dari sisi sektor, investasi Sultra masih didominasi industri berbasis mineral. Sektor logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menyumbang sekitar Rp9,6 triliun, disusul pertambangan Rp5,14 triliun.

Kemudian perdagangan dan reparasi mencapai Rp888 miliar, perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp760 miliar, serta listrik, gas dan air Rp647 miliar.

Meski menjadi daerah dengan nilai investasi terbesar, Kolaka bukan daerah dengan persentase pencapaian target tertinggi. Laode Nurjaya mengurai, Kabupaten Buton berada di posisi pertama dengan capaian 210,84 persen, meski nilai investasinya hanya berkisar Rp320 miliar.

Berikut, tempat kedua Kabupaten Konawe Utara dengan capaian 134 persen, disusul Buton Tengah 78,35 persen, Bombana 56,18 persen, dan Kolaka 52,22 persen. Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *