LAJUR.CO, KENDARI – Sebuah gagasan sederhana yang berangkat dari persoalan di lapangan membawa tiga mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui inovasi digital bernama QRISPOINT, mereka berhasil menyabet Juara I dalam ajang Digital Innovation Challenge (DIC) QRISTAL Kasuari yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI).
Kompetisi yang berlangsung di Sorong, Papua Barat Daya, pada 23–25 Juli 2026 itu menjadi ajang pembuktian inovasi inovasi mahasiswa mampu menghadirkan solusi atas persoalan nyata. QRISPOINT dinilai menawarkan pendekatan baru untuk mendorong adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Tim pengembang QRISPOINT terdiri atas Riang Hidayat dari Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan sebagai ketua, Dikhsan Dwirangga Tibong dari Program Studi Teknik Informatika, serta Nadyn Anastasya dari Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.
Ketua tim, Riang Hidayat, mengatakan QRISPOINT lahir dari keresahan mereka terhadap masih rendahnya tingkat penggunaan QRIS di kalangan UMKM di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran tidak cukup hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan.
Berangkat dari persoalan itu, tim menawarkan konsep pemberdayaan Agen Laku Pandai, seperti BRILink dan agen perbankan lainnya, sebagai pusat edukasi, aktivasi, sekaligus pendampingan penggunaan QRIS kepada masyarakat.
Riang menjelaskan, pendekatan tersebut dipilih karena Agen Laku Pandai telah memiliki kedekatan dengan masyarakat dan selama ini menjadi perpanjangan tangan layanan keuangan formal hingga ke wilayah yang sulit dijangkau.
“Teknologi tidak akan optimal kalau tidak diikuti oleh kepercayaan dan pendampingan. Agen Laku Pandai sudah memiliki kedekatan dengan masyarakat. Jadi, QRISPOINT tidak menciptakan aktor baru, tetapi memperkuat peran aktor yang sudah ada,” kata Riang kepada awak Lajur.co, Rabu (29/7/2026).
Tak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pengguna QRIS, QRISPOINT juga dirancang untuk membangun kebiasaan masyarakat bertransaksi secara digital. Hal itu dilakukan melalui pendampingan agen, sistem insentif berbasis aktivitas, serta fitur Habit Meter yang membantu memantau konsistensi penggunaan QRIS.
Tim ikut menghadirkan QRISPOINT Hub, sebuah dashboard berbasis survei dan pemetaan yang dapat dimanfaatkan para pemangku kepentingan untuk memonitor perkembangan adopsi QRIS sekaligus menjadi dasar penyusunan strategi perluasan ekosistem pembayaran digital.
Riang menilai keberhasilan meraih Juara I dalam kompetisi Bank Indonesia menjadi bukti bahwa inovasi yang mereka kembangkan memiliki relevansi dengan tantangan inklusi keuangan digital di Indonesia.
“Kami sangat bersyukur dan bangga. Kemenangan ini bukan hanya tentang mendapatkan juara, tetapi menjadi validasi bahwa ide yang kami bangun bersama memiliki relevansi dengan permasalahan inklusi keuangan di Papua Barat dan Papua Barat Daya,” ujarnya.
Ke depan, tim berencana mengembangkan QRISPOINT melalui integrasi dengan API penyedia jasa pembayaran, penambahan fitur notifikasi WhatsApp otomatis, hingga mode offline yang dapat digunakan di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet.
Mereka berharap QRISPOINT tidak hanya menjadi karya yang berprestasi di tingkat kompetisi, tetapi juga dapat diimplementasikan secara luas untuk mempercepat inklusi keuangan digital dan memperluas penggunaan QRIS di berbagai daerah.
“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan QRISPOINT sekaligus mengikuti kompetisi inovasi dan teknologi lainnya. Harapannya, solusi yang kami kembangkan tidak hanya berprestasi di kompetisi, tetapi juga dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutup Riang.
Laporan: Ika Astuti



