LAJUR.CO, KENDARI – Kelangkaan BBM subsidi jenis Pertalite yang sempat terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), akhirnya mendapat penjelasan dari PT Pertamina Patra Niaga.
Perusahaan pelat merah itu mengungkapkan konsumsi Pertalite di wilayah Sulawesi mengalami peningkatan sekitar 5 hingga 7 persen setelah adanya penyesuaian harga BBM non-subsidi jenis Pertamax.
Sebelumnya, stok Pertalite dilaporkan sempat kosong di sejumlah SPBU Kota Kendari pada Kamis (11/6/2026), sehari setelah harga Pertamax mengalami penyesuaian. Akibatnya, sebagian pengendara harus mencari SPBU lain untuk mendapatkan BBM subsidi tersebut.
Pantauan Lajur.co saat itu menemukan beberapa dispenser Pertalite tidak beroperasi karena kehabisan stok. Salah seorang petugas SPBU bahkan mengonfirmasi kondisi tersebut.
“Kalau Pertalite kosong. Kalau mau Pertamax masih ada,” kata petugas SPBU kepada wartawan.
Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Berdasarkan pantauan terbaru Lajur.co pada Jumat (12/6/2026), stok Pertalite di sejumlah SPBU Kota Kendari kembali normal dan mulai melayani pengisian BBM subsidi seperti biasa.
Menanggapi kondisi itu, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, memastikan stok Pertalite secara nasional dalam kondisi aman dan distribusinya ke seluruh SPBU tetap berjalan normal sesuai penugasan pemerintah.
Menurutnya, Pertamina terus mengoptimalkan pengelolaan rantai pasok energi melalui dukungan terminal BBM, lembaga penyalur dan penyimpanan, armada distribusi, serta sistem pemantauan yang terintegrasi.
“Selain memastikan stok Pertalite dalam kondisi tersedia dan distribusi ke seluruh SPBU berjalan normal, Pertamina Patra Niaga juga terus melakukan pemantauan secara real-time terhadap kondisi stok dan penyaluran BBM di seluruh wilayah agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Roberth dalam keterangan resminya, Sabtu (13/6/2026).
Ia menjelaskan Pertamina memiliki jaringan infrastruktur energi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke sehingga memungkinkan perusahaan melakukan respons cepat apabila terjadi peningkatan kebutuhan di wilayah tertentu.
“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan khususnya dengan jaringan unit operasi kami di delapan cabang kantor wilayah atau Regional 1 sampai Regional 8 dalam rangka melakukan langkah-langkah antisipatif untuk memastikan layanan energi kepada masyarakat tetap berjalan optimal. Jika terdapat peningkatan kebutuhan di suatu wilayah, kami telah menyiapkan skema penguatan distribusi agar pasokan tetap terjaga,” katanya.
Khusus di wilayah Sulawesi, Pertamina mencatat adanya lonjakan konsumsi Pertalite sekitar 5 hingga 7 persen pasca penyesuaian harga Pertamax. Meski demikian, perusahaan memastikan stok dan distribusi BBM subsidi tetap aman.
“Di wilayah Sulawesi, Pertamina Patra Niaga mencatat adanya peningkatan konsumsi Pertalite sekitar 5 hingga 7 persen pasca penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax. Meski demikian, kondisi stok dan distribusi tetap dalam keadaan aman serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah operasional Regional Sulawesi,” jelas Roberth.
Pertamina juga menegaskan penyaluran Pertalite tetap dilakukan sesuai ketentuan dan regulasi yang ditetapkan pemerintah. Masyarakat pun diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan dan peruntukannya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan energi dengan membeli BBM sesuai kebutuhan dan sesuai dengan peruntukannya serta sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan. Pertamina Patra Niaga akan terus menjalankan tugas penyaluran energi dengan optimal serta memastikan ketersediaan Pertalite bagi masyarakat tetap terjaga,” tutupnya. Adm




