LAJUR.CO, KENDARI – Menjelajahi Pulau Muna rasanya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khas daerah ini. Jika ingin merasakan sensasi makan dengan suasana sederhana seperti di rumah sendiri, deretan warung panggung di Jalan Poros Desa Banggai, Kecamatan Duruka, bisa menjadi salah satu tempat yang patut disinggahi.
Berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari Kota Raha menuju kawasan Permandian Napabhale, pusat kuliner ini mudah ditemukan di sisi jalan poros Desa Banggai. Sekitar 16 lapak berdiri berjajar memanjang mengikuti jalur jalan.
Seluruh bangunannya dibuat menggunakan kayu dan papan dengan konsep warung panggung terbuka. Tidak ada interior modern seperti rumah makan kekinian, meja, maupun kursi. Pengunjung cukup duduk lesehan di atas lantai papan sambil menikmati aneka hidangan rumahan khas Muna yang telah disiapkan para pedagang.
Suasana kawasan kuliner ini mulai terasa ramai saat waktu makan siang tiba. Kendaraan yang melintas tampak sesekali menepi. Sebagian pengunjung memilih makan langsung di tempat, sementara lainnya membeli makanan untuk dibawa pulang.
Menu yang tersedia pun beragam. Untuk makanan utama, pengunjung dapat menemukan sajian khas Muna seperti kasuami, kambuse, dan lapa-lapa. Hidangan tersebut menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati makanan tradisional dengan cita rasa yang masih dipertahankan.
Pilihan sayurannya juga menghadirkan nuansa masakan rumahan. Tersedia sayur nangka, sayur daun singkong, pepaya rebus, hingga singkong rebus yang menjadi pelengkap santapan.
Bagi pencinta olahan ikan, sejumlah menu hasil laut juga tersedia. Mulai dari ikan pari berkuah, pepes ikan lure, hingga ikan bakar yang disajikan dalam porsi sederhana namun menggugah selera.
Tak hanya makanan berat, lapak-lapak tersebut juga menyediakan aneka jajanan dan kudapan tradisional seperti pisang rebus dan kacang tanah rebus. Ada juga Hogo-hogo, olahan singkong kering yang dicampur parutan kelapa.
Tidak ketinggalan Roko-roko, kue khas lokal berbahan singkong yang diberi isian gula merah dan parutan kelapa lalu dibungkus menggunakan daun pisang.
Soal harga, kuliner di kawasan ini cukup ramah di kantong. Pisang rebus, roko-roko, dan lapa-lapa dijual Rp5 ribu untuk tiga buah. Kambuse, kasuami, hogo-hogo, serta pepaya rebus dijual Rp5 ribu per bungkus.
Sementara ikan pari berkuah dibanderol Rp10 ribu per porsi, pepes ikan lure Rp5 ribu per bungkus, dan ikan bakar Rp20 ribu per porsi.
Salah seorang pedagang, Wa Ode Maambo, warga Desa Banggai, mengatakan telah berjualan di lokasi tersebut selama empat tahun. Setiap hari, ia membawa makanan yang telah disiapkan dari rumah untuk dijual di lapaknya.
“Yang saya masak sendiri ada kambuse, sayuran, singkong, pepaya rebus, sama ikan. Kalau kasuami, lapa-lapa, roko-roko, kacang tanah, sama pisang rebus saya beli jadinya,” ujar Wa Ode Maambo kepada LAJUR.CO, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, para pedagang tidak dikenakan biaya sewa lapak. Mereka hanya bergotong royong membayar kebutuhan listrik dengan sistem isi pulsa. Sekali pengisian Rp50 ribu dapat digunakan sekitar 10 hari, sementara Rp25 ribu biasanya cukup hingga satu minggu.
Dalam sehari, keuntungan yang diperoleh tidak selalu sama. Saat pembeli ramai, ia bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp100 ribu. Namun pada hari biasa, pendapatan berkisar sekitar Rp50 ribu.
“Ada yang datang makan di sini, ada juga yang datang beli saja baru pergi,” tambahnya.
Keberadaan pusat kuliner ini tidak hanya menjadi tempat mencari penghasilan bagi pelaku UMKM, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga keberlangsungan makanan tradisional Muna.
Kawasan kuliner tersebut dilengkapi fasilitas terdiri dari lapak usaha, tempat penyimpanan, lahan parkir, penerangan, hingga toilet umum.
Di tengah menjamurnya rumah makan dan kafe dengan konsep modern, warung panggung di Desa Banggai menawarkan pengalaman yang berbeda.
Disini, pengunjung bisa menikmati kuliner khas Muna dengan cara yang sederhana. Anda cukup duduk lesehan, menyantap makanan rumahan, dan merasakan keramahan masyarakat lokal dalam suasana khas kampung. Red



