?>
BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Proyek Hilirisasi Nikel Masif Beroperasi di Kolaka, BI Prediksi Ekonomi Sultra Menguat di Triwulan III

×

Proyek Hilirisasi Nikel Masif Beroperasi di Kolaka, BI Prediksi Ekonomi Sultra Menguat di Triwulan III

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI — Hilirisasi nikel di Kabupaten Kolaka mulai memasuki fase penting. Sejumlah proyek pengolahan nikel berskala besar yang terhubung dengan industri baterai kendaraan listrik diproyeksikan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada triwulan III.

Bank Indonesia (BI) Sultra memperkirakan pertumbuhan ekonomi daerah kembali bergerak lebih kuat dan tetap berada di atas pertumbuhan nasional.

Kepala Perwakilan BI Sultra Edwin Permadi mengatakan, mulai bergeraknya sejumlah proyek hilirisasi menjadi salah satu faktor yang diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra pada triwulan III.

“Kalau triwulan III, kita harapkan betul-betul ada peningkatan pertumbuhan ya, karena salah satunya ada hilirisasi,” kata Edwin diwawancarai usai kegiatan Bincang Bareng Media, Selasa (29/9/2026).

Menurut Edwin, sejumlah perusahaan tambang mulai melakukan produksi hilirisasi. Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa nikel dengan nilai tambah lebih tinggi, tetapi juga material yang berkaitan dengan kebutuhan industri baterai.

“Kita harapkan di triwulan III itu sudah, khususnya di daerah Kolaka, sudah mulai berjalan,” ujarnya.

Aktivitas tersebut sebelumnya diharapkan mulai memberikan dorongan pada triwulan II. Namun, beberapa agenda produksi mengalami penyesuaian waktu.

“Tadinya memang di triwulan II, tapi ternyata dimundurkan di triwulan III karena kemarin kan ada permasalahan bahan baku yang dari Timur Tengah dan sebagainya karena ada konflik Timur Tengah agak melambat,” jelas Edwin.

BI Sultra kini memperkirakan aktivitas tersebut mulai bergerak pada triwulan III dan memberikan efek lebih besar terhadap perekonomian daerah.

Baca Juga :  Empat Rumah di Mubar Terbakar Selama Agustus, Kompor Ditinggal Menyala Disebut Jadi Penyebab Utama

“Diperkirakan di triwulan III bisa berjalan. Jadi kalau kita bayangkan, di triwulan III akan meningkat, itu akan lebih dari yang kita harapkan ya. Di atas, tetap di atas nasional, dan bisa mendukung sampai akhir tahun,” katanya.

Sebagai gambaran, ekonomi Sultra pada triwulan II 2026 tumbuh 6,19 persen secara tahunan (y-on-y). Secara triwulanan, ekonomi Sultra tumbuh 3,13 persen (q-to-q). Sementara secara kumulatif, ekonomi Sultra pada semester I 2026 tumbuh 6,21 persen (c-to-c), berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara.

Kabupaten Kolaka sendiri beberapa tahun terakhir memang berkembang menjadi salah satu kawasan penting dalam pengembangan industri nikel di Bumi Anoa. Aktivitas pertambangan di daerah tersebut mulai terhubung dengan pengolahan dan pemurnian, termasuk pengembangan industri yang menyasar rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Salah satu kawasan yang menjadi bagian dari perkembangan tersebut adalah Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP). Kawasan ini dikembangkan sebagai spot industri terintegrasi yang menghubungkan berbagai aktivitas pengolahan nikel dengan industri baterai lithium.

Keberadaan proyek-proyek tersebut membuat aktivitas hilirisasi di Kolaka berpotensi memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian daerah. Bukan hanya melalui produksi, tetapi juga kebutuhan tenaga kerja, jasa konstruksi, transportasi, logistik, perdagangan dan berbagai usaha penunjang.

Namun, BI Sultra melihat pertumbuhan ekonomi daerah ke depan tidak cukup hanya mengandalkan sektor pertambangan. Sultra juga memiliki potensi pada sektor kelautan dan energi terbarukan.

Baca Juga :  Belajar dari Bali, DLH Sultra Olah Limbah Buah Jadi Body Butter dan Sabun Organik

“Kita juga selain tadi hilirisasi tambang, kita mungkin kan di sini ada daerah kelautan, kita perlu juga ekonomi biru istilahnya, ekonomi hijau,” kata Edwin.

Tumpuan ekonomi tidak hanya dari hilirisasi nikel. Menurut dia, pengembangan ekonomi biru dan hijau dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi Sultra, termasuk melalui pemanfaatan energi terbarukan.

“Ini ekonomi yang terbarukan, itu banyak yang bisa kita manfaatkan. Misalnya nanti ada energi dari angin, energi dari laut, energi dari berbagai macam, enggak cuma dari tambang dan sebagainya,” ujarnya.

Sementara itu, perkembangan sejumlah proyek hilirisasi di Kolaka menunjukkan skala investasi yang cukup besar. PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa misalnya tengah mengembangkan tambang dan fasilitas pengolahan nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Dalam informasi resmi perusahaan, proyek tersebut dikembangkan melalui PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan patungan Vale bersama Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford Motor Company. Fasilitas HPAL IGP Pomalaa ditargetkan menghasilkan sekitar 120 ribu ton nikel dan 15 ribu ton kobalt per tahun dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Vale menyebut investasi untuk pengembangan blok Pomalaa, termasuk tambang dan fasilitas HPAL, mencapai sekitar US$4,5 miliar. Dalam pembaruan perusahaan pada 2026, progres pembangunan IGP Pomalaa telah mencapai sekitar 62 persen.

Baca Juga :  Amunra Reviews Exposed A Raw Honest Look

Selain Vale, raksasa tambang berstatus BUMN yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) telah lama menjalankan aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel melalui Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka di Pomalaa. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang pengolahan nikel di wilayah Kolaka.

Sementara di Kecamatan Wolo, PT Ceria Nugraha Indotama mengembangkan fasilitas smelter nikel. Kementerian ESDM mencatat proyek tersebut sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional. Smelter Ceria menggunakan teknologi RKEF dan dirancang berkembang hingga empat lini produksi dengan kapasitas sekitar 252.700 ton per tahun.

Di sisi lain, IPIP menjadi induk yang menaungi sejumlah perusahaan dalam ekosistem industri tersebut. Situs resmi IPIP mencantumkan sejumlah perusahaan yang bergabung dalam kawasan, antara lain PT Kolaka Nickel Indonesia, PT Huaxing Nickel Indonesia, PT Bumi New Material, PT Batu Kapur Tohor, PT Hijau Bangun Bersama dan PT Huayou Indonesia Resource Recycling.

Dengan investasi dan proyek yang terus berkembang tersebut, Kolaka kini tidak hanya menjadi daerah penghasil bijih nikel, tetapi mulai membangun rantai industri yang lebih panjang dari pengolahan nikel hingga material pendukung industri baterai.

Bagi BI Sultra, bergeraknya proyek-proyek tersebut pada triwulan III menjadi salah satu momentum yang diharapkan mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah hingga akhir tahun. Adm

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>