LAJUR.CO, KENDARI – Lonjakan harga bahan baku dan perlengkapan usaha dalam beberapa waktu terakhir mulai menekan pendapatan pelaku usaha kecil di Kabupaten Muna Barat.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak tersebut adalah Joko (56), pedagang somai keliling di Desa Katangana, Kecamatan Tiworo Selatan. Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, ia mengaku harus mencari strategi agar usahanya tetap bertahan.
Pria asal Jawa Tengah itu mengaku tidak berani menaikkan harga jual somai meski biaya produksi terus meningkat. Menurutnya, pelanggan sudah terbiasa membeli somai dengan harga Rp1.000 per tusuk sehingga kenaikan harga berpotensi membuat pembeli beralih.
“Kalau harga dinaikkan takut tidak laku. Tapi kalau ukuran atau kualitas dikurangi, pelanggan juga protes,” ujar Joko saat mangkal di kawasan Kecamatan Barangka, Kamis (12/6/2026).
Sambung Joko, harga tahu sebagai salah satu bahan utama somai mengalami kenaikan sehingga jumlah stok yang bisa dibeli dengan modal yang sama menjadi berkurang.
Ia mencontohkan, anggaran Rp100 ribu yang sebelumnya cukup untuk membeli stok tahu dalam jumlah lebih banyak, kini hanya mampu memperoleh stok lebih sedikit. Akibatnya, keuntungan dari usaha yang telah digelutinya sejak 2009 itu ikut menurun.
“Masih untung, cuma tidak seperti dulu. Dulu dari bahan tahu dan isi daging bisa dapat keuntungan sekitar Rp100 ribu, sekarang paling sekitar Rp70 ribu,” ucapnya.
Meski demikian, Joko memilih tidak mengurangi kualitas dagangannya. Sebagai gantinya, ia memangkas jumlah stok bahan baku yang dibeli agar usaha tetap berjalan tanpa harus menaikkan harga jual.
“Kalau bahan naik, saya tidak berani naikkan harga. Yang saya kurangi paling stoknya. Kualitas tetap,” katanya.
Joko mengatakan, dengan modal usaha sekitar Rp500 ribu per hari, keuntungan yang diperolehnya kini tidak sebesar sebelumnya karena biaya produksi terus meningkat.
Tak hanya tahu, lonjakan harga minyak goreng dan kantong plastik juga menambah beban usaha Joko. Harga minyak goreng yang sebelumnya berkisar Rp22 ribu kini mencapai Rp32 ribu, sementara harga kantong plastik naik dari Rp17 ribu menjadi Rp25 ribu per bungkus.
“Yang paling terasa itu minyak sama plastik. Plastik naik dari Rp17 ribu jadi Rp25 ribu. Mau tidak mau tetap dipakai karena banyak pembeli, terutama untuk anak-anak harus dibungkus,” urainya.
Bagi pedagang kecil sepertinya, kenaikan harga tersebut sangat berpengaruh sebab seluruh kebutuhan itu digunakan setiap hari dalam proses produksi dan penjualan.
Meski begitu, harga somai yang dijual Joko masih bertahan Rp1.000 per tusuk seperti beberapa tahun lalu. Daya beli masyarakat, lanjutnya, menjadi pertimbangan utama sehingga ia tidak berani menaikkan harga.
“Kalau saya naikkan harga, belum tentu laku. Tapi kalau dikurangi kualitasnya juga pelanggan tidak mau,” jelas Joko.
Di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, Joko tetap berkeliling menjajakan somai hingga ke sejumlah wilayah di Muna Barat, termasuk Kecamatan Barangka. Bagi dia, menjaga rasa dan kualitas merupakan cara terbaik untuk mempertahankan pelanggan setianya.
“Yang penting rasa dan kualitas tetap dijaga. Kalau pelanggan suka, mereka akan tetap cari,” tutupnya. Red




