LAJUR.CO, KENDARI – Universitas Halu Oleo (UHO) menjadi ruang bertukar gagasan bagi akademisi Indonesia dan Malaysia melalui Seminar Serantau Isu-Isu Komuniti (SSIK) 2026. Forum tersebut membahas strategi memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian global, krisis, konflik sosial, hingga perubahan iklim.
SSIK 2026 mengusung tema “Strengthening Community Resilience Amid Global Uncertainty, Crisis, and Conflict”. Kegiatan ini digagas Universiti Putra Malaysia (UPM) melalui Institute for Social Science and Humanities (IPSAS) bersama sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Forum tersebut melibatkan IPSAS UPM, Universitas Teuku Umar (UTU), Universitas Abulyatama (UNAIA), dan UHO sebagai tuan rumah.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UHO, Prof. Eka Suaib, mengatakan SSIK 2026 menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, dan dosen dari Indonesia serta Malaysia untuk bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, forum tersebut tidak hanya bertujuan memperluas jejaring akademik, tetapi juga mendorong lahirnya gagasan dan strategi yang dapat membantu masyarakat menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian.
“Tujuannya adalah membangun jejaring bagi peneliti, dosen, akademisi terhadap isu-isu yang kita angkat sekarang. Dalam situasi global ada ketidakpastian, ada konflik, maka bagaimana kita mencari pikiran agar masyarakat itu dapat tangguh bertahan dengan ketidakpastian itu,” kata Eka kepada awak media, Selasa (1/9/2026).
SSIK 2026 tidak hanya menghadirkan seminar. Sejumlah agenda akademik turut dirangkaikan dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 1-2 September 2026, di antaranya paparan keynote speaker, diskusi paralel, guest lecturer, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan peluncuran buku yang mengangkat tema disaster management atau manajemen bencana.
Wakil Rektor I UHO, Prof. La Ode Santiaji Bande, menilai tema yang diangkat dalam SSIK 2026 relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, perubahan iklim dan konflik sosial merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian serta pendekatan lintas disiplin.
“Intinya adalah bagaimana menangani beberapa masalah isu-isu perubahan terhadap masa perubahan iklim, konflik sosial. Sangat penting sekali, mudah-mudahan bisa merumuskan strategi pemecahan masalah yang bisa berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menilai keterlibatan perguruan tinggi dari Indonesia dan Malaysia dalam forum tersebut memberikan nilai positif bagi UHO, terutama dalam membuka peluang kerja sama akademik yang lebih luas di tingkat internasional.
Menurut La Ode Santiaji Bande, jejaring tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk kerja sama dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, mulai dari penelitian bersama, publikasi ilmiah, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
“Beberapa perguruan tinggi, saya kira ini sangat bagus sekali untuk meningkatkan jejaring kerja sama. Mereka penelitian bersama, publikasi bersama, itu saya kira sangat penting sekali sehingga jejaring itu tetap terbuka semakin lebar,” ungkapnya.
Melalui SSIK 2026, UHO berharap forum akademik serantau tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat melahirkan kolaborasi dan rekomendasi yang relevan untuk memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai tantangan global.
Laporan: Ika Astuti



