LAJUR.CO, KENDARI — Langkah pertama memasuki dunia perkuliahan menjadi momen istimewa bagi setiap mahasiswa baru. Di tengah ribuan maba UHO yang mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UHO 2026, dua mahasiswa berkebutuhan khusus turut memulai perjalanan akademik mereka di Kampus Hijau.
Mereka adalah Syarifah Amyra Nur Atfal dan Andi Alfian Ramadhan Ayfhar. Keduanya mengikuti rangkaian PKKMB bersama 8.180 mahasiswa baru UHO dengan semangat untuk menempuh pendidikan tinggi, meski memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda.
Syarifah merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UHO. Mahasiswa asal Raha, Kabupaten Muna, itu memiliki keterbatasan dalam berjalan sehingga harus menggunakan kursi roda dalam menjalani aktivitas perkuliahan.
Bagi Syarifah, diterima sebagai mahasiswa UHO merupakan impian yang telah lama disimpan. Keinginannya untuk menempuh pendidikan di kampus terbesar di Sultra tersebut bahkan sudah muncul sejak masih kecil.
“Senang sekali bisa ke universitas pilihan. Karena memang sudah incaran dari dulu, dari kecil memang sudah mau di UHO,” ujar Syarifah kepada awak media usai mengikuti PKKMB UHO, Selasa (11/8/2026).
Sementara itu, Andi tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UHO. Ia memiliki tubuh mungil dengan perawakan pendek.
Andi mengaku memilih Ilmu Pemerintahan karena memang memiliki ketertarikan untuk menempuh pendidikan di bidang tersebut. Sebelum memilih UHO, ia sempat mendaftar di Universitas Hasanuddin dengan pilihan Jurusan Hukum.
Namun, UHO akhirnya menjadi pilihannya karena lokasinya yang dekat dengan tempat tinggalnya di Wawonggu.
“Karena memang pengen kuliah di UHO. Karena dekat saja dari rumah, di Wawonggu rumah saya,” ungkap Andi.
Memasuki dunia perkuliahan, Andi berharap kampus dapat menyediakan fasilitas yang menunjang aktivitas akademiknya. Salah satu yang dibutuhkannya adalah tempat duduk khusus selama mengikuti proses pembelajaran.
“Tempat duduk saja khusus untuk saya,” tuturnya.
Kebutuhan tersebut mendapat perhatian dari pihak FISIP UHO. Dekan FISIP UHO, Prof. Eka Suaib, mengatakan fakultas berkomitmen memberikan hak pendidikan yang sama kepada seluruh mahasiswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
Eka menyebut FISIP mulai merintis sejumlah fasilitas yang dapat mendukung aktivitas mahasiswa berkebutuhan khusus, di antaranya jalur khusus, toilet, hingga area parkir khusus. Fasilitas pendukung lainnya juga akan disiapkan sesuai kebutuhan mahasiswa, termasuk tongkat dan kursi roda.
“Saya kira selama ini memang kita siapkan pendidikan untuk semua, termasuk memberikan hak-hak yang sama kepada orang-orang yang punya kebutuhan khusus,” ujarnya.
Selama pelaksanaan PKKMB, Andi ditempatkan di bagian depan dalam setiap rangkaian orientasi di Jurusan Ilmu Pemerintahan. FISIP juga menyediakan ruangan khusus yang dapat digunakan untuk beristirahat apabila dibutuhkan.
Eka menegaskan, fasilitas tersebut bukan hanya disiapkan selama masa orientasi. Pihak fakultas akan terus melengkapi sarana dan prasarana untuk menunjang proses perkuliahan mahasiswa berkebutuhan khusus.
“Kebijakan kami sudah siapkan, sarana dan prasarana sudah kita rintis, ada yang sudah terpenuhi, ada yang belum terpenuhi, dan itu akan kita segera penuhi pada saat proses perkuliahan nantinya,” jelasnya.
Perhatian terhadap mahasiswa berkebutuhan khusus juga datang dari tingkat universitas. Pimpinan UHO memastikan mahasiswa dengan kebutuhan khusus mendapatkan pelayanan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Wakil Rektor III UHO, Dr. Herman, mengatakan pihak rektorat telah meminta dilakukan identifikasi terhadap mahasiswa baru yang memiliki kebutuhan khusus. UPA Bimbingan dan Konseling (UPA-BK) UHO juga diarahkan untuk memberikan pelayanan sesuai kebutuhan mahasiswa.
Dari total 8.180 mahasiswa baru UHO, hingga saat ini teridentifikasi dua mahasiswa berkebutuhan khusus yang masing-masing berasal dari FMIPA dan FISIP.
“Kami sudah sampaikan kepada kepala UPA-BK agar mengidentifikasi mahasiswa yang 8.180 itu yang mana saja yang mempunyai kebutuhan khusus. Dan terhadap kebutuhan khusus mereka itu adalah kewajiban kami untuk memfasilitasi mereka,” ungkap Herman.
Syarifah dan Andi pun tetap mengikuti rangkaian PKKMB bersama ribuan mahasiswa baru lainnya. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari wajah baru UHO yang berupaya membuka ruang pendidikan bagi seluruh mahasiswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
Laporan: Ika Astuti



