?>
BERITA TERKINIHEADLINE

Mahasiswa Asal Pakistan Cerita Culture Shock Kuliah di UIN, Sekarang Jago ‘Mi’ Logat Kendari

×

Mahasiswa Asal Pakistan Cerita Culture Shock Kuliah di UIN, Sekarang Jago ‘Mi’ Logat Kendari

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Dua tahun lalu, Anis Khan datang ke Kendari dari Pakistan dengan satu persoalan sederhana tapi cukup pelik, ia tak bisa berbahasa Indonesia. Jangankan mengikuti obrolan warga, berkomunikasi dengan teman dan dosen di kampus pun sempat membuatnya kesulitan.

Kini kondisinya jauh berbeda. Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari itu sudah begitu akrab dengan bahasa dan kebiasaan masyarakat lokal. Ia bahkan mulai fasih menggunakan kata-kata khas anak muda Kendari seperti “mi”, “di”, dan “ji”.

“Begitu ji,” ucap Anis sambil tersenyum, menirukan salah satu ungkapan yang sering didengarnya dalam percakapan sehari-hari di Kota Lulo.

Ucapan singkat itu menjadi gambaran kecil dari perjalanan Anis beradaptasi selama tinggal di Kendari. Dari yang awalnya benar-benar asing dengan bahasa Indonesia, kini ia mulai terbiasa dengan logat dan gaya bicara masyarakat setempat.

Anis merupakan mahasiswa asal Pakistan yang menempuh pendidikan di UIN Kendari, Program Studi Manajemen Bisnis Syariah. Ia diterima pada September 2024 untuk tahun akademik 2024/2025 melalui program pertukaran pemuda.

Saat pertama tiba di Ibu Kota Sulawesi Tenggara (Sultra), Anis mengaku sempat mengalami culture shock. Selain harus mengenal lingkungan baru, ia juga harus belajar bahasa Indonesia dari nol.

Baca Juga :  Wette auf Rot App Jetzt Laden Einfach Gewinnen

“Pas saya datang saya tidak tahu bahasa Indonesia sama sekali, baru belajar di sini. Jadi susah berkomunikasi, berinteraksi, tapi bisa menyesuaikan,” kata Anis kepada awak Lajur.co, Senin (5/10/2026).

Tantangan itu semakin terasa ketika ia mulai menjalani aktivitas perkuliahan. Berinteraksi dengan dosen dan mahasiswa mengharuskannya memahami bahasa sekaligus kebiasaan komunikasi yang berbeda dengan lingkungan di Pakistan.

Namun, Anis tidak harus melewati masa adaptasi itu seorang diri. Teman-teman kampus dan para dosen disebutnya banyak membantu sehingga ia perlahan merasa lebih nyaman.

“Mereka sangat ramah dan sangat membantu, teman-teman kampusku dan dosen-dosenku. Saya dapat mereka sangat membantu, jadi saya bersyukur di sini,” ungkapnya.

Dari situlah kemampuan bahasa Indonesia Anis berkembang. Menariknya, ia tak hanya mempelajari bahasa Indonesia yang digunakan dalam situasi formal, tetapi juga menyerap bahasa pergaulan yang biasa digunakan anak muda Kendari.

Kata “mi”, “di”, dan “ji” yang pada awalnya terdengar asing kini justru sudah menjadi bagian dari percakapannya.

Baca Juga :  Στοιχηματικές Φτερούγες για Υψηλές Πετάξεις

Bukan cuma soal bahasa. Lidah Anis juga harus beradaptasi dengan makanan khas Kendari.

Ketika baru tiba, ia mengaku belum terbiasa dengan cita rasa makanan lokal. Menurutnya, makanan yang ditemuinya di Kendari terasa berbeda dengan makanan yang biasa disantap di Pakistan.

“Apalagi kalau soal makanan, pas saya datang saya rasa makanan di sini itu tidak ada rasanya begitu. Tapi sekarang saya sudah bisa beradaptasi sama makanannya,” jelasnya.

Rasa penasaran kemudian membuat Anis mencoba berbagai kuliner lokal. Sinonggi dan lapa-lapa menjadi dua makanan khas Sultra yang sudah dicicipinya.

“Kalau saya sendiri, saya pernah coba makanan semua, makanan sinonggi, lapa-lapa, saya pernah coba semua,” katanya.

Setelah mulai nyaman dengan bahasa dan makanan, Anis juga menjelajahi sejumlah tempat di Sulawesi Tenggara.

Pantai Nambo, Desa Namu hingga Pulau Bokori pernah dikunjunginya. Dari beberapa destinasi tersebut, Bokori menjadi tempat yang paling disukainya.

“Saya pernah kunjungi banyak, tapi yang paling suka saya Bokori,” ujarnya.

Bagi Anis, pengalaman selama kurang lebih dua tahun di Kendari bukan sekadar perjalanan menempuh pendidikan. Ia juga belajar mengenal budaya, kebiasaan, makanan hingga karakter masyarakat di tempat barunya.

Baca Juga :  Hugua Soroti Bagi Hasil Tambang di Sultra: Pusat Untung Rp188 Triliun, Daerah Hanya Keciprat Rp207 Miliar

Keramahan warga menjadi salah satu hal yang paling membuatnya betah. Ia merasa diterima bukan sebagai orang asing, melainkan seperti bagian dari lingkungan sekitarnya.

“Yang paling enak di sini itu orang-orang yang menerima. Saya diterima seperti teman, seperti keluarga, jadi saya enak tinggal di sini,” tutur Anis.

Dua tahun lalu, Anis datang sebagai mahasiswa asing yang bahkan belum memahami bahasa Indonesia. Kini, ia sudah bisa mengikuti obrolan warga, mencicipi makanan khas Sultra, menjelajahi destinasi wisata hingga ikut menggunakan logat lokal.

Kendari yang sempat membuatnya bingung karena perbedaan bahasa dan budaya, perlahan berubah menjadi rumah kedua.

Dan mungkin, salah satu tanda paling sederhana bahwa Anis sudah benar-benar “Kendari” adalah ketika kata “mi”, “di”, dan “ji” kini spontan keluar begitu saja dari saat ia bercakap-cakap.

Dari Pakistan ke Kota Lulo, Anis bukan cuma belajar di kampus. Ia juga belajar menjadi bagian dari kehidupan Kendari. Sis

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>