LAJUR.CO, LUWU TIMUR – Pemandangan tumpukan sampah rumah tangga nyaris tak terlihat di kompleks perumahan karyawan PT Vale Indonesia di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Di balik lingkungan yang bersih dan asri itu, ada kebiasaan sederhana yang setiap hari dilakukan para ibu rumah tangga, yakni memilah sampah organik sejak dari dapur melalui Program Emberisasi.
Sisa makanan, sayur-mayur, hingga limbah organik dapur tidak lagi bercampur dengan sampah lainnya. Seluruhnya dikumpulkan ke dalam ember khusus sebelum diangkut petugas kebersihan untuk diolah menjadi pakan maggot. Cara sederhana ini mampu mengurangi timbulan sampah rumah tangga sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Di kompleks perumahan karyawan PT Vale, para ibu rumah tangga mulai terbiasa memilah sampah organik sejak dari dapur melalui Program Emberisasi. Kebiasaan sederhana ini dinilai lebih praktis dan mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Sampah basah berupa sisa makanan dan sayur-mayur tidak lagi dicampur dengan sampah plastik maupun sampah anorganik lainnya, sehingga proses pengangkutan dan pengelolaan sampah menjadi lebih mudah, efektif, dan ramah lingkungan.
Program Emberisasi merupakan bagian dari komitmen PT Vale Indonesia dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya pada pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Perusahaan tidak hanya membangun sistem pengolahan sampah terpadu, tetapi juga melibatkan karyawan beserta keluarganya sebagai pelaku utama perubahan perilaku dalam pengelolaan limbah rumah tangga.
Setiap hari, para ibu rumah tangga mengumpulkan sisa makanan, sayur-mayur, maupun limbah dapur ke dalam ember yang telah disediakan. Ember tersebut kemudian diletakkan di depan rumah untuk diangkut secara rutin menuju fasilitas pengelolaan sampah milik perusahaan.
Salah seorang isteri karyawan PT Vale yang tinggal di kompleks perumahan, Ny Ashadi Cahyadi, mengatakan Program Emberisasi membuat proses pemilahan sampah menjadi lebih mudah sekaligus membangun kebiasaan baru di lingkungan keluarga.
Menurutnya, para ibu rumah tangga kini terbiasa memisahkan sampah organik sejak dari dapur sehingga volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan dapat ditekan secara signifikan.
“Sisa-sisa makanan dikumpul, dicampur semua di ember sini. Sampah di ember ini di simpah di luar (halaman) nanti diangkut sama petugas,” ujar Ny Cahyadi sambil memperlihatkan ember penampungan sampah basah di dapurnya kepada sejumlah media yang bertandang ke kompleks perumahan karyawan PT Vale Sorowako pada Juli tahun lalu.
Sampah organik yang terkumpul kemudian dibawa ke Segregation Plant, fasilitas pengelolaan sampah milik PT Vale. Di lokasi tersebut, sampah dipilah kembali sebelum dimanfaatkan sebagai pakan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Larva maggot mampu mengurai limbah organik secara cepat. Setelah memasuki fase dewasa, maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan sehingga menciptakan siklus ekonomi sirkular yang memberi nilai tambah dari sampah rumah tangga.
Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi, seperti plastik, botol kaca, dan besi bekas, dipilah untuk kemudian disalurkan ke bank sampah maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Program Emberisasi diluncurkan PT Vale pada Desember 2024 dengan melibatkan 100 rumah karyawan di Perumahan Pontada, Sorowako. Dari program tersebut, perusahaan berhasil mengumpulkan rata-rata sekitar 100 kilogram sampah organik setiap hari yang kemudian diolah menjadi kompos maupun pakan maggot.
Program ini merupakan bagian dari ekosistem pengelolaan sampah terpadu yang dikembangkan PT Vale. Melalui fasilitas Segregation Plant, perusahaan mengelola sekitar 12 hingga 15 ton sampah organik dan anorganik setiap hari.
Sebanyak 500 hingga 700 kilogram sampah organik per hari diolah menjadi kompos, sedangkan sebagian lainnya dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Sampah anorganik yang telah dipilah kemudian disalurkan kepada bank sampah dan BUMDes dengan total donasi mencapai sekitar empat ton sampah terpilah setiap tahun.
Untuk mendukung keseluruhan sistem tersebut, PT Vale mengalokasikan anggaran pengelolaan sampah lebih dari Rp700 juta setiap tahun.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan praktik pengelolaan sampah yang diterapkan di Sorowako merupakan bukti nyata komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi lingkungan yang dimulai dari rumah karyawan.
“Apa yang kami bawa ke Jakarta bukan sekadar konsep—ini adalah apa yang nyata terjadi di Sorowako. Dari rumah karyawan, ke fasilitas pengomposan, hingga warung yang memasak menggunakan gas dari sampah. Kami percaya bahwa perusahaan tambang bisa dan harus menjadi bagian dari solusi lingkungan,” ujarnya saat Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026 di Jakarta.
Keberhasilan Program Emberisasi menjadi salah satu praktik pengelolaan lingkungan yang dipamerkan PT Vale dalam ajang tersebut. Melalui forum internasional itu, perusahaan membagikan pengalaman dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah berkelanjutan yang melibatkan karyawan, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Ke depan, PT Vale berencana memperluas penerapan Program Emberisasi tidak hanya di lingkungan perumahan karyawan, tetapi juga kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Langkah tersebut menjadi bagian dari target perusahaan mewujudkan nol sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA) pada 2050, sekaligus memperkuat implementasi prinsip ESG melalui tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. Adm




