SULTRABERITA.ID, KENDARI – Sekitar 600 dokter Prancis di bawah gabungan kolektif C 19, menuntut mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Agnez Buzyn dan Perdana Menteri (PM) Edouard Philippe. Tuntutan itu terkait dengan penanganan pemerintah terhadap wabah corona di Perancis.
Mengalihbahasakan dari Europost, tuntutan tersebut dilayangkan ke Pengadilan Kehakiman Republik. Kehakiman tersebut merupakan lembaga hukum satu-satunya yang mengurusi perkara terkait pemerintah.
BACA JUGA :
- 43 Siswa SD/MI di Kendari Adu Kemampuan Bertutur, Pemenang Bakal Wakili Kota Kendari
- Pilrek UHO Bisa Diperpanjang Jika yang Daftar Tak Cukup Empat Calon
- Kata La Ode Tariala ‘Diparkir’ di Kursi Pojok Belakang Saat Rakerwil NasDem Sultra Ditengah Isu PAW
- Eksotisme Air Terjun Moramo Bawa Konsel Masuk Nominasi API 2026 Kategori Surga Tersembunyi
- Pertamina BERKAH Bantu Pendidikan Anak Yatim di MakassarPertamina BERKAH Bantu Pendidikan Anak Yatim di Makassar
Para tenaga medis menilai bahwa pemerintah seharusnya menyimpan masker, mengadakan tes, dan bahan medis lainnya yang diperlukan saat informasi wabah di negara tetangga muncul. Namun menurut para dokter, pemerintah tidak melakukan apapun.
Dengan anggapan itu, kolektivitas dokter menuding pemerintah dengan sebutan “Pemerintah Bohong”.
Apalagi mantan Menkes Agnez Buzyn yang mengundurkan diri pada Januari mengaku pada majalah Le Monde bahwa sebenarnya ia sudah tahu tetang corona yang mungkin akan datang.
Apabila tuntutan tersbeut disetujui oleh pengadilan, maka mantan Menkes dan Perdana Menteri Prancis akan dipenjara dua tahun dengan denda 30.000 Euro atau sekitar Rp 509 juta.
Menurut Menteri Kesehatan yang baru, Olvier Veran, pemerintah telah membeli 250 juta lebih masker dan 86 juta peralatan kesehatan yang sudah disimpan di gudang.
“Ada masalah di benak setiap orang, yaitu masker dan peralatan pelindung,” kata Veran menjelaskan.
“Tanggung jawab saya sebagai menteri adalah melakukan segalanya untuk memastikan bahwa barang-barang tersebut bisa dapat dikirimkan secara berkala,” kata Veran menambahi.
Menurut Direktorat Jenderal Kesehatan, Prancis memiliki kapasitas produksi enam juta masker per minggu.
“Otoritas publik dan semua yang terlibat dalam jaringan produksi nasional harus bergabung untuk menyediakan 15 juta masker yang kami butuhkan setiap hari,” tulis beberapa dokter dan personel bedah lainnya dalam siaran pers.
“Negara mengandalkan kami untuk menghadapi pandemi ini, tetapi kami tidak bisa mengambil risiko terlalu banyak, kami masih sama rentannya dengan orang lain,” tambah mereka. Adm
Sumber : suara.com
Judul : https://www.suara.com/news/2020/03/24/090500/600-dokter-di-prancis-seret-pm-ke-pengadilan-dicap-tak-becus-hadapi-corona





