LAJUR.CO, KENDARI – Upaya meningkatkan fokus belajar sekaligus mengembalikan budaya literasi membaca di lingkungan sekolah dilakukan SMA Negeri 2 Kendari dengan cara unik. Sekolah tersebut menerapkan kebijakan “Kelas Bebas Gawai” melalui pembatasan penggunaan handphone (HP) di area sekolah.
Sebagai bentuk penerapan aturan itu, pihak sekolah menyediakan loker khusus untuk menyimpan HP para siswa sebelum memasuki kelas.
Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulawesi Tenggara Nomor 8/822/421/1/2026 tentang pembatasan penggunaan telepon seluler di satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB.
Kepala SMA Negeri 2 Kendari, Nur Aida, mengatakan pihaknya bergerak cepat menerjemahkan kebijakan tersebut dengan menyediakan loker penyimpanan HP bagi siswa.
“Sekarang sudah ada 25 loker yang tersedia. Ini sudah tahap kedua dan Insyaallah pada Juni nanti semuanya sudah terkoneksi dan pelaksanaannya berjalan efektif,” ujar Nur Aida kepada awak media.
Ia menjelaskan, pengadaan loker dilakukan secara bertahap karena sekolah memiliki 35 ruang kelas. Pada tahap awal, loker dipasang di 15 kelas, kemudian bertambah di 10 kelas lainnya. Bulan ini, sekolah kembali menambah fasilitas hingga seluruh kelas, termasuk laboratorium dan perpustakaan, memiliki tempat penyimpanan HP.
Seluruh pengadaan loker dilakukan secara mandiri dan pembiayaannya ditanggung oleh pihak sekolah.
Bagi kelas yang belum memiliki loker, penyimpanan HP sementara dilakukan di meja guru selama proses belajar berlangsung.
Meski demikian, sekolah tidak menerapkan larangan total penggunaan HP. Siswa tetap diperbolehkan menggunakan gawai untuk kebutuhan pembelajaran, seperti mencari materi pelajaran atau membuka bahan ajar yang dikirim guru.
Selain itu, sekolah telah menyediakan smart board untuk mendukung proses belajar mengajar tanpa ketergantungan pada HP. Penggunaan telepon seluler juga masih diperbolehkan saat jam istirahat maupun setelah kegiatan belajar selesai.
“Hari ini gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Jadi dengan pembatasan ini saya kira sudah cukup baik, ada waktu untuk digunakan dan ada waktu untuk disimpan,” katanya.
Pihak sekolah mengakui masih ada kemungkinan siswa membawa lebih dari satu HP. Namun, pengawasannya diserahkan kepada guru di kelas sebagai bagian dari pengelolaan disiplin siswa.
Salah seorang siswa mengapresiasi kebijakan tersebut karena dinilai membuat dirinya lebih fokus belajar dan mengurangi ketergantungan terhadap ponsel.
“Saya harapkan dengan adanya loker HP, nilai-nilai saya bisa lebih meningkat,” ungkapnya.
Nur Aida berharap program pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah dapat diterapkan secara efektif di seluruh satuan pendidikan di Sulawesi Tenggara, baik SMA, SMK, maupun SLB.
Menurutnya, kebijakan tersebut sangat tepat sasaran karena remaja saat ini rentan mengalami Fear of Missing Out (FOMO) atau kecenderungan ikut-ikutan tren di media sosial.
“Saya rasa sangat penting dan sangat bermanfaat membantu guru, anak-anak, dan juga orang tua untuk meningkatkan literasi membaca siswa,” tuturnya.
Laporan: Ika Astuti





