LAJUR.CO, KENDARI – Wakil Gubernur Sultra Hugua mengapresiasi Forum Ekonomi Sultra (FORKESTRA) 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) Sultra. Menurutnya, FORKESTRA menjadi ruang gotong royong berbagai elemen untuk memperkuat ekosistem dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pernyataan Hugua disampaikan usai menghadiri puncak FORKESTRA 2026, Senin (5/10/2026). Rekan duet Gubernur Andi Sumangerukka itu menilai keterhubungan pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan perbankan menjadi kunci mengoptimalkan potensi pertanian, pertambangan serta pariwisata Sultra.
“Forum ini mempertemukan semua pihak untuk memperbaiki keterhubungan ekosistemnya. Kalau ekosistemnya, baik pemerintah, masyarakat, pengusaha, kemudian perbankan dan semuanya menyatu dalam mengembangkan ekonomi Sultra, saya kira pertumbuhan ekonomi Sultra tidak hanya 6,1 persen, tapi mungkin lebih dari itu,” kata Hugua kepada awak media.
Ia berharap sinergi tersebut tidak berhenti pada diskusi. Berbagai gagasan yang lahir dari FORKESTRA diharapkan diterjemahkan menjadi program konkret untuk memperkuat perekonomian daerah.
“Intinya tadi temanya bagus, yaitu ekonomi yang inklusif, mandiri dan berdaya saing global,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Kepala Perwakilan BI Sultra Edwin Permadi mengatakan pihaknya terus mendorong gagasan tersebut melalui kolaborasi yang menghasilkan manfaat langsung bagi pelaku usaha. Salah satunya dengan menghubungkan kebutuhan industri dengan UMKM lokal.
“Seperti Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur waktu itu mempertemukan dengan salah satu PT yang membutuhkan pasokan. Kita mempertemukan dengan UMKM kita, konveksi kita. Ternyata berhasil dan kita meningkatkan ekspor, khususnya di wilayah Sultra,” ujar Edwin.
Implementasi lainnya terlihat dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara industri pengolahan tepung tapioka di Konawe Selatan (Konsel) dengan pondok pesantren binaan BI Sultra. Penandatanganan MoU berlangsung pada puncak FORKESTRA 2026 disaksikan langsung Edwin Permadi dan Hugua.
Lewat kerjasama tersebut, pesantren yang tergabung dalam komunitas Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren) binaan BI Sultra masuk dalam rantai pasok komoditi singkong untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tepung tapioka di Konsel yang sudah berskala ekspor.
Skema kemitraan membuka pasar bagi produksi singkong pesantren sekaligus menghubungkan sektor pertanian dengan industri pengolahan. Langkah tersebut memperkuat hilirisasi komoditas lokal agar menghasilkan nilai tambah di daerah sekaligus membuka jalan bagi Sultra meningkatkan ekspor komoditi pangan.
Selain hilirisasi, BI Sultra mendorong penguatan kerja sama antardaerah (KAD) untuk menjaga pasokan pangan dan mengendalikan inflasi.
Penandatanganan KAD melibatkan Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Selatan dan Kota Baubau. Kolaborasi tersebut diarahkan menghubungkan wilayah surplus pangan dengan daerah yang membutuhkan pasokan. Melalui distribusi antarwilayah yang lebih terkoordinasi, ketersediaan pangan diharapkan tetap terjaga. Stabilitas harga dan daya beli masyarakat pun dapat dipertahankan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan produsen lokal.
“Termasuk kerja sama antardaerah untuk penekanan inflasi. Jadi daerah yang surplus bisa memberikan ke daerah yang kekurangan,” jelas Edwin.
Menurut Edwin, hilirisasi dan konektivitas antarwilayah merupakan bagian dari upaya membangun fondasi ekonomi Sultra yang lebih kuat. Potensi lokal perlu diolah dan dipasarkan melalui jejaring yang saling terhubung.
“Bagaimana tadi dikatakan oleh Pak Wagub bahwa kita perlu hilirisasi produk kita,” katanya.
Hugua menyoroti keterkaitan FORKESTRA dengan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut dapat melahirkan inovasi untuk menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan produktivitas.
Ia menyebut harga tiket, cabai dan minyak goreng menjadi sejumlah komponen yang memberikan tekanan terhadap inflasi. Di sisi lain, ia menilai daya tukar petani menunjukkan perkembangan positif.
“Di samping memang inflasi, okelah karena kemarau. Tadi harga tiket, cabai dan minyak goreng itu yang menyumbang inflasi agak tinggi,” katanya.
Hugua juga menekankan perlunya dukungan mekanisasi untuk menjaga produksi pertanian. Ketersediaan pupuk subsidi di tingkat petani, menurutnya, perlu diikuti penguatan teknologi dan sarana produksi.
“Mudah-mudahan dari seminar ini bisa melahirkan beberapa inovasi untuk menjaga inflasi dan produktivitas,” tuturnya.
Sebagai informasi, memasuki tahun keenam, FORKESTRA 2026 mengusung tema “Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Sultra yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya Saing Global”. Puncak event diikuti sekitar 1.300 peserta yang sebagian besar dari kalangan kampus. Di antaranya Universitas Halu Oleo (UHO), UIN Kendari, Universitas Terbuka (UT) Kendari, Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau, STIE Enam Enam Kendari, Poltekkes Kemenkes Kendari, Universitas Mandala Waluya Kendari, Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka dan Universitas Lakidende (Unilaki) Konawe.
Rangkaian FORKESTRA turut menghadirkan seminar nasional dengan pembicara dari beragam latar. Mereka di antaranya konten kreator sekaligus penulis Xaveria Putri, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian UHO Prof. Azhar Bafadal dan Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz.
Kehadiran para pembicara tersebut memperkaya perspektif peserta dalam membaca peluang dan tantangan Sultra. Pembahasannya mencakup sisi akademik, dunia usaha hingga industri kreatif.
FORKESTRA 2026 mencatat peningkatan partisipasi masyarakat. Sebanyak 405 opini terkumpul dari total 964 pendaftar. Jumlah itu naik 33,2 persen dibandingkan 2025 yang mencatat 304 opini. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan gagasan terkait arah perekonomian Sultra. Adm



