LAJUR.CO, KENDARI – Berjualan ikan kini tak harus menunggu pembeli datang ke pasar. Memanfaatkan tren media sosial, Amina, pedagang ikan di Pasar Banteng, Jalan Pangeran Antasari, Kelurahan Anduonohu, Kota Kendari, menawarkan dagangannya melalui siaran langsung TikTok. Pembeli bisa memilih ikan lewat layar ponsel, memesan melalui WhatsApp, hingga membayar menggunakan layanan QRIS.
Di sela-sela kesibukannya melayani pembeli di lapak, Amina rutin melakukan live TikTok untuk memperlihatkan ikan yang dijualnya. Cara ini membuka peluang bagi pelanggan yang ingin berbelanja tanpa harus datang langsung ke pasar.
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Amina mengaku bisa memperoleh sekitar 10 pelanggan dalam sehari melalui penjualan daring. Tak sedikit pula penonton siaran langsung yang kemudian tertarik berkunjung langsung ke lapaknya.
“Iya, sambil live TikTok juga. Ada sekitar 10 orang, lain juga yang datang langsung,” ungkap Amina kepada awak LAJUR.CO, Kamis (8/10/2026).
Amina biasanya mulai melakukan siaran langsung pukul 07.00 Wita. Setelah beristirahat sekitar pukul 10.00 Wita, ia kembali memanfaatkan TikTok pada sore hari untuk menjangkau calon pembeli.
Meski baru sekitar dua bulan berjualan ikan, perempuan berhijab ini sudah mencoba mengikuti kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan belanja melalui media sosial. Menurutnya, ia bukan satu-satunya pedagang di Pasar Banteng yang menggunakan TikTok untuk mempromosikan dagangan. Setidaknya ada tiga pedagang yang turut memanfaatkan fitur siaran langsung tersebut.
“Ada sekitar tiga orang di sini yang live juga,” tuturnya.
Bagi pelanggan yang tertarik dengan ikan yang ditawarkan saat siaran langsung, pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp. Setelah pesanan dikonfirmasi, Amina membantu mengantarkan belanjaan menggunakan jasa ojek daring Maxim.
Ia juga melayani pembelian dengan sistem cash on delivery (COD) atau pembayaran di tempat. Namun, pelanggan harus mencantumkan alamat lengkap agar pengantaran berjalan lancar.
Sementara itu, untuk pesanan yang dibayar melalui transfer atau QRIS, Amina baru memproses pesanan setelah pembayaran diterima. Ketentuan ini diterapkan untuk memastikan transaksi berjalan aman bagi kedua pihak.
“Kecuali dia sudah payment, sudah pembayaran, baru kita proses ikannya. Kan biasanya ada yang bertanya, boleh COD apa tidak? Kecuali sudah lengkap dia punya alamat, baru kita COD. Kalau tidak lengkap, kita tidak ada berani COD,” kata Amina.
Untuk menarik minat pelanggan, Amina juga memberikan promo atau potongan harga bagi pembeli daring. Meski demikian, harga pembelian langsung di lapaknya masih lebih murah.
Layanan yang ditawarkan bukan sekadar memesan ikan dari rumah. Pelanggan juga bisa meminta ikan dibersihkan terlebih dahulu sebelum dikirim. Dengan begitu, ikan yang tiba di rumah lebih praktis untuk diolah menjadi hidangan.
“Baru kan kebanyakan sekarang anak Gen Z yang habis menikah. Kebanyakan mau langsung saja diantar di rumahnya. Ikannya kan di sini kita kerjakan, jadi sampai di rumah bisa dicuci, dimasak, selesai mi,” ungkapnya.
Tak berhenti pada penjualan ikan, Amina turut membuka jasa titip sayuran melalui WhatsApp. Ia bersedia berkeliling ke sejumlah lapak di Pasar Banteng untuk membantu menawarkan dagangan pedagang lain secara daring.
“Semuanya, pokoknya saya sorot di sini. Kalau tidak ada pembeli di meja saya, kadang keliling. Kalau mau jastip sayur juga boleh, pokoknya via WhatsApp saja kalau mau jastip,” tuturnya.
Langkah Amina memperlihatkan bagaimana pedagang pasar tradisional mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan penjualan. TikTok menjadi etalase digital untuk menarik perhatian calon pembeli, sementara WhatsApp memudahkan pemesanan dan QRIS menawarkan pilihan pembayaran non-tunai.
Melalui cara tersebut, aktivitas jual beli di pasar tak lagi terbatas pada transaksi tatap muka. Pedagang dapat menjangkau pelanggan dari rumah, sementara pembeli memiliki pilihan berbelanja yang lebih praktis tanpa harus selalu datang ke pasar. Sis