LAJUR.CO, KENDARI – Kabut asap masih membayangi sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara (Sultra). Perpaduan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal dengan kiriman asap dari Papua Selatan menyebabkan kualitas jarak pandang di sejumlah kawasan menurun hingga kurang dari 5 kilometer, terutama pada dini hari dan pagi hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut potensi kabut asap kategori sedang masih berlangsung hingga Sabtu, 31 Oktober 2026. Wilayah terdampak mencakup Kota Kendari, Baubau, Wakatobi, Buton, Muna, Konawe Selatan, serta sejumlah kabupaten lainnya.
Berdasarkan pemutakhiran informasi sebaran asap BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari, Jumat, 30 Oktober 2026, kabut asap kategori sedang berpotensi terjadi di sebagian Kolaka, Wakatobi, Buton, Buton Selatan, Buton Utara, sebagian Buton Tengah, dan sebagian Muna.
Potensi serupa turut mencakup Konawe Selatan, Kota Kendari, sebagian Kolaka Utara, sebagian Konawe, sebagian Konawe Utara, Konawe Kepulauan, sebagian Kolaka Timur, serta sebagian Bombana.
Sementara pada Sabtu, 31 Oktober 2026, wilayah yang diprakirakan mengalami kabut asap kategori sedang meliputi sebagian Kolaka, Wakatobi, Buton, Kota Baubau, Buton Selatan, Buton Utara, Buton Tengah, Muna, dan Muna Barat.
Sebaran potensi kabut asap juga mencakup Konawe Selatan, Kota Kendari, sebagian Konawe, Konawe Kepulauan, sebagian Kolaka Timur, serta Bombana.
Meski masih membayangi sejumlah daerah hingga akhir pekan, BMKG memperkirakan kondisi tersebut tidak berlanjut hingga awal November. Pada Minggu, 1 November 2026, tidak ada wilayah di Bumi Anoa yang diprakirakan mengalami kabut asap kategori sedang.
Sebelumnya, hasil observasi dan pemantauan citra satelit Himawari 9 pada 29 Oktober 2026 menunjukkan keberadaan kabut asap masih terdeteksi di wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya.
Dampaknya terlihat pada penurunan jarak pandang mendatar hingga kurang dari 5 kilometer, terutama saat dini hari dan pagi. Menjelang siang hingga malam, kepekatan asap cenderung berkurang sehingga jarak pandang berkisar 8–9 kilometer, khususnya di wilayah Sultra bagian timur dan selatan.
BMKG menjelaskan, pola angin umumnya bergerak dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 2–12 knots. Kondisi tersebut memungkinkan asap dari luar Sulawesi Tenggara, terutama Papua Selatan dan sekitarnya, terbawa masuk ke wilayah Sultra.
Asap kiriman itu kemudian bercampur dengan asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah lokal. Perpaduan kedua sumber asap tersebut turut memengaruhi kondisi atmosfer dan jarak pandang di daerah terdampak.
Di sisi lain, pemantauan satelit sensor VIIRS dan MODIS pada 28 Oktober 2026 mencatat sebanyak 295 titik panas atau hotspot di Sultra. Titik panas tersebut memiliki tingkat kepercayaan mulai dari rendah hingga tinggi.
Dari total temuan itu, sebanyak 24 titik panas masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi. Sebarannya meliputi Bombana satu titik, Buton tujuh titik, Buton Utara empat titik, Konawe 10 titik, Konawe Kepulauan satu titik, dan Muna satu titik.
BMKG mengingatkan, titik panas merupakan anomali suhu yang terdeteksi melalui satelit. Temuan tersebut bukan konfirmasi langsung bahwa kebakaran benar-benar terjadi di lokasi yang terpantau.
Menyikapi kondisi kabut asap, masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menutup jendela rumah ketika asap terasa pekat.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan, disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko paparan asap.
Pengguna jalan, transportasi laut, hingga penerbangan turut diminta meningkatkan kewaspadaan. Apabila jarak pandang menurun secara signifikan, pengendara dan operator kapal diimbau menyalakan lampu kendaraan atau kapal guna membantu menjaga keselamatan perjalanan. Sis





