LAJUR.CO, KENDARI – Membaca bagi sebagian orang mungkin terasa sederhana. Namun, bagi individu dengan disleksia, aktivitas ini bisa menjadi tantangan tersendiri.
Kesulitan mengenali bentuk kata, membedakan huruf, hingga mempertahankan fokus pada baris bacaan kerap membuat proses membaca terasa lebih berat.
Berangkat dari persoalan itu, lima mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) mencoba menghadirkan solusi melalui LEXILIGHT, sebuah kacamata pintar berbasis *Augmented Reality* (AR) yang dirancang untuk membuat aktivitas membaca lebih mudah dan fleksibel.
Gagasan itu membawa mereka meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Tim pengembang LEXILIGHT terdiri dari Muhammad Rizky Yamin, Anggun Dian Pertiwi, Moch. Rayzhan Absar Alwanie, Kahar Munajat, dan Nadia Dwi Maharani.
Ketua tim, Muhammad Rizky Yamin, mengatakan ide LEXILIGHT muncul dari keprihatinan terhadap keterbatasan dukungan membaca bagi penyandang disleksia yang selama ini lebih banyak tersedia dalam lingkungan belajar yang terstruktur.
“Dukungan membaca untuk penderita disleksia selama ini sebagian besar masih terbatas pada lingkungan pembelajaran yang terstruktur. Lewat LEXILIGHT, kami ingin menghadirkan akses membaca yang lebih fleksibel di mana saja,” ujar Rizky kepada awak Lajur.co, Rabu (9/9/2026).
LEXILIGHT dirancang bekerja secara bertahap. Kamera yang terpasang pada perangkat akan menangkap tulisan di sekitar pemakainya. Teks itu kemudian diubah menjadi bentuk digital menggunakan teknologi *Optical Character Recognition* (OCR).
Setelah itu, sistem *Natural Language Processing* (NLP) dan *Lexical Simplification* akan mengolah kata-kata yang dianggap rumit menjadi bentuk yang lebih sederhana, tanpa mengubah maksud dari kalimat aslinya.
Teks hasil pemrosesan kemudian ditampilkan di depan mata melalui *micro-display* berbasis AR. Ada pula fitur *Line-Focusing* yang berfungsi mengarahkan perhatian pada baris bacaan sehingga mata tidak mudah berpindah ke baris lain.
Bagi tim, pendanaan dari Kemdiktisaintek menjadi langkah penting untuk membawa LEXILIGHT dari tahap gagasan menuju prototipe yang bisa diuji.
Rizky berharap perangkat yang mereka kembangkan tidak berhenti sebagai proyek mahasiswa. Setelah prototipe rampung, tim akan melakukan evaluasi untuk melihat seberapa efektif teknologi itu digunakan oleh individu dengan disleksia.
“Pendanaan ini merupakan motivasi besar bagi kami. Kami berharap LEXILIGHT tidak berhenti sebatas prototipe, melainkan dapat terus disempurnakan hingga benar-benar memberi manfaat nyata bagi pendidikan inklusif di Indonesia,” ungkapnya.
Kini, kelima mahasiswa UHO itu masih fokus menyempurnakan perangkat sebelum masuk ke tahap pengujian. Mereka berharap LEXILIGHT nantinya bisa menjadi salah satu pilihan teknologi yang mendukung pengalaman belajar yang lebih inklusif bagi penyandang disleksia.
Laporan: Ika Astuti



