BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Binaan Vale di Kolaka Beralih ke Padi Organik, Ketergantungan Pestisida Menurun

×

Binaan Vale di Kolaka Beralih ke Padi Organik, Ketergantungan Pestisida Menurun

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KOLAKA – Indah Susanti, petani asal Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), mulai mengubah cara bertani setelah mengikuti pendampingan PT Vale  Indonesia IGP Pomalaa. Dari kebiasaan mengandalkan pupuk kimia dan pestisida, ia kini belajar mengelola sawah menggunakan pendekatan pertanian organik yang lebih memperhatikan keseimbangan ekosistem.

Perubahan tersebut berlangsung melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia, salah satunya Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB). Bersama Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok), Indah mendapatkan pendampingan budidaya padi organik dengan pendekatan System of Rice Intensification (SRI).

Sebelum mengikuti program, Indah terbiasa membeli pupuk dan obat pembasmi hama di toko pertanian. Ketika menemukan tanaman berlubang, ia biasanya langsung mencari pestisida untuk mengatasi kerusakan tersebut.

Setelah mendapatkan pendampingan, ia mulai memahami pentingnya mengamati kondisi tanaman sebelum menentukan penanganan. Tidak semua serangga harus dibasmi karena sebagian masih menjadi bagian dari keseimbangan ekosistem sawah.

“Dulu kami bergantung penuh di toko. Pokoknya ada lubang sedikit, kami ke toko cari racun. Kalau sekarang kami mengamati dulu, ini lubang karena apa. Ibarat kata, kita diajar hidup berdampingan dengan alam,” ujar Indah.

Baca Juga :  Buruan Daftar! Bank Sultra Buka Kuota 100 Rumah Subsidi untuk ASN Lewat Skema FLPP

Ia juga belajar mengenali jenis hama dan memahami bahwa kerusakan tanaman perlu ditangani berdasarkan penyebabnya, bukan dengan langsung menggunakan bahan kimia.

“Kami jadi peneliti di kebun (sawah, red) kami, kami jadi peneliti di tanah kami. Dulu sedikit-sedikit ke toko, beli racun. Padahal hama tertentu kalau dibiarkan sebetulnya masih aman,” katanya.

Indah bersama suaminya kini membudidayakan tiga varietas padi organik, yakni Menthik Susu, Arumba Merah, dan Jeliteng Hitam. Harga jual Menthik Susu mencapai sekitar Rp24 ribu per kilogram, sedangkan Arumba Merah dan Jeliteng Hitam sekitar Rp35 ribu per kilogram.

Untuk menekan biaya produksi, Indah dan kelompoknya juga dilatih membuat pupuk padat dan pupuk organik cair dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai bahan kompos, sedangkan mikroorganisme lokal atau MOL dibuat melalui fermentasi nasi.

Baca Juga :  Dukung MBG Berjalan Baik, Ini Cara Lengkap Rakyat Ikut Mengawasi

Menurut Indah, ketergantungannya terhadap produk pertanian dari toko kini tersisa sekitar 20 persen. Kemampuan memproduksi pupuk sendiri membantu mengurangi pengeluaran sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal.

Meski demikian, peralihan ke pertanian organik tidak selalu berjalan mudah. Pada masa awal, Indah sempat merasa gagal karena perkembangan tanaman dinilai lambat. Ia bahkan pernah menangis di sawah ketika menghadapi tekanan untuk mempertahankan metode baru di tengah kebiasaan masyarakat yang masih menggunakan sistem konvensional.

“Saya menangis sambil memperbaiki tanaman saya. Saya katakan, ‘Oh, ternyata anggota saya ini yang dirasakan.’ Tapi saya sudah bilang suara saya paling kencang, masa saya mundur gara-gara satu hantaman,” tuturnya.

Indah memilih bertahan karena mendapatkan pendampingan intensif dari tim PT Vale. Menurutnya, pendamping tidak hanya memantau perkembangan program, tetapi ikut terlibat dalam aktivitas petani di sawah.

Baca Juga :  Minta Jaminan Harga, Saudagar Muslim di Sultra Siap Penuhi Pasokan Ubi Kayu Industri Tepung Tapioka Ekspor

“Kami di sawah, mereka juga ke sawah. Kami kepanasan, mereka kepanasan. Mereka kehujanan, kami juga kehujanan. Jadi susah senang bersama,” katanya.

Program pengembangan padi organik di Kolaka mulai dilakukan PT Vale sejak akhir 2021. Pada 2023, tercatat 16 petani aktif di Kecamatan Baula mengikuti program Padi SRI Organik dengan total luas lahan mencapai 5,49 hektare.

Kini, hasil pertanian Indah telah memiliki pasar tersendiri. Penjualan beras organiknya mencapai sekitar satu ton per bulan dengan pelanggan dari Kolaka dan sejumlah daerah lain, termasuk Toraja dan Kalimantan.

Beras hasil produksi petani secara kolektif dikumpulkan di tempat pengolahan dekat rumah Indah untuk disortir dan dikemas sebelum dipasarkan melalui jaringan pelanggan dan status WhatsApp.

Pendampingan tersebut memberikan perubahan pada cara Indah mengelola sawah, mulai dari pemilihan varietas, pengendalian hama, hingga pemanfaatan pupuk buatan sendiri. Ia kini turut membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada petani lain di Desa Puuroda. Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!