LAJUR.CO, KENDARI – Kabut asap yang menyelimuti perairan Sulawesi Tenggara (Sultra) membuat nelayan tradisional di Pantai Batu Gong, Kabupaten Konawe, terpaksa menghentikan aktivitas melaut selama dua pekan. Kondisi ini tak sekadar menghambat upaya mencari ikan, tetapi turut memukul pendapatan nelayan hingga mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keterbatasan jarak pandang membuat nelayan kesulitan menentukan arah dan menemukan lokasi penangkapan ikan. Tanpa alat navigasi maupun pendeteksi ikan yang memadai, mereka memilih bertahan di darat demi menghindari risiko saat berada di tengah perairan yang diselimuti asap.
Salah seorang nelayan Pantai Batu Gong, Badwin, menyebut kabut asap menjadi kendala serius bagi nelayan yang masih mengandalkan metode tradisional saat mencari ikan.
“Untuk sekarang dengan adanya asap, memang kita pemancing tradisional sangat susah. Selama dua minggu itu tidak melaut dulu, libur karena tidak kelihatan tanda,” ujar Badwin kepada awak media, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, situasi tersebut lebih memberatkan nelayan kecil yang tidak memiliki perangkat pendeteksi untuk membantu menemukan titik keberadaan ikan. Sementara nelayan dengan peralatan modern masih memiliki dukungan teknologi, nelayan tradisional hanya mengandalkan pengamatan langsung yang kini terhambat kabut asap.
Kepemilikan alat pendeteksi ikan pun belum menjadi pilihan realistis bagi nelayan berpenghasilan terbatas. Harga perangkat paling murah diperkirakan mencapai Rp4 juta, sedangkan tipe yang lebih mahal bisa menembus Rp12 juta.
“Mau pakai bagaimana, tidak ada uang. Makan saja setengah mati kasihan,” ungkapnya.
Terhentinya aktivitas melaut membuat Badwin harus memutar otak agar dapur tetap mengepul. Nelayan yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari hasil tangkapan itu kini mengandalkan pekerjaan sampingan di bidang mobiler dan pertukangan bangunan.
Namun, penghasilan dari pekerjaan tambahan tersebut belum mampu menutup kebutuhan rumah tangga. Untuk bertahan, ia terpaksa menggunakan uang simpanan yang dikumpulkan sebelumnya.
“Saya ada sedikit kerja-kerja mobiler, tetapi tidak juga. Disitulah pintar-pintarnya nelayan, kalau tidak ada sisipan sedikit ya, sudah tertinggal, tidak melaut,” katanya.
Di tengah tekanan akibat kabut asap, Badwin turut menyoroti perubahan kondisi perairan yang dirasakannya selama puluhan tahun menjadi nelayan. Ia mengenang era 1990-an sebagai masa ketika ikan relatif mudah ditemukan di sejumlah titik penangkapan, termasuk kawasan sekitar jetty.
Perairan di depan jetty dahulu menjadi salah satu lokasi andalan untuk mendapatkan ikan tenggiri. Kini, menurut pengalamannya, nelayan harus menghadapi tantangan lebih besar untuk memperoleh hasil tangkapan, meskipun harga jual ikan dinilai lebih baik dibandingkan masa lalu.
“Dulu ikan boleh dikata begitu turun, dapat. Hanya kendalanya harga, dulu murah. Sekarang memang harga ikan bagus, tetapi untuk mendapatkan ikan itu tidak seperti dulu,” jelasnya.
Perubahan kondisi perairan turut menjadi perhatian Badwin ketika menyinggung aktivitas perusahaan tambang di sekitar wilayah yang selama ini dimanfaatkan nelayan untuk mencari ikan. Ia mengaku keberadaan kapal-kapal perusahaan menuntut nelayan lebih berhati-hati saat memilih lokasi berlabuh maupun memancing.
Badwin bahkan menceritakan pengalaman ketika perahunya mengalami gangguan saat sedang berlabuh. Kapal milik perusahaan, menurut pengakuannya, pernah menyebabkan jangkar perahunya rusak hingga ia tidak bisa pulang pada malam itu.
Pengalaman tersebut menambah kekhawatirannya terhadap keselamatan nelayan tradisional yang harus berbagi ruang dengan aktivitas pelayaran perusahaan. Bagi nelayan kecil, ruang perairan yang aman menjadi kebutuhan penting agar mereka tetap bisa mencari nafkah tanpa dibayangi risiko saat melaut.
Kabut asap kini memperberat persoalan yang sudah dihadapi nelayan tradisional, mulai dari sulitnya menemukan ikan hingga terbatasnya pilihan pekerjaan ketika kondisi perairan tidak mendukung. Tanpa kepastian kapan situasi kembali aman, mereka hanya bisa menunggu sambil mencari sumber penghasilan alternatif.
Badwin berharap pemerintah memberi perhatian terhadap kabut asap yang menghambat aktivitas melaut dan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat pesisir.
“Ini saya lihat karena merata mau diapa, kita sebagai nelayan pasrah, menunggu kalau ada hujan, begitu ada hujan dia reda ini. Nah kalau tidak ada hujan, kalau kita mau ikuti sesuai prediksinya itu BMKG, nanti bulan 2 baru mau ada hujan,” ungkapnya. Sis


