LAJUR.CO, KENDARI – Warga Sulawesi Tenggara (Sultra) diminta mulai bersiap menghadapi siklus kekeringan yang diprediksi berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Langit Bumi Anoa diperkirakan lebih kering seiring minimnya potensi hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Sultra tidak akan mengalami hujan dengan intensitas sedang maupun lebat pada periode 11-20 Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Sultra, Kusairi, mengatakan berdasarkan prospek cuaca BMKG, tidak terdapat potensi hujan sedang maupun lebat di wilayah Bumi Anoa pada dasarian II Agustus.
“Jadi cenderung kering, kita lihat tidak ada peringatan dini curah hujan untuk dasarian II pada Agustus atau dari tanggal 11 sampai 20, tidak ada,” ujarnya kepada awak Lajur, Kamis (13/8/2026).
Kondisi kering tersebut turut tergambar dalam data Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH), Analisis dan Prediksi Curah Hujan Dasarian Sultra yang diperbarui pada 10 Agustus 2026.
Merunut data tersebut, seluruh wilayah Sultra diprediksi berpeluang tinggi mengalami curah hujan kategori rendah. Curah hujan diperkirakan hanya berada pada kisaran 0-50 milimeter per dasarian pada pertengahan Agustus 2026.
Kondisi curah hujan rendah tersebut juga diprediksi masih berlangsung hingga pertengahan September 2026. Secara umum, Sultra diperkirakan tetap mengalami curah hujan kategori rendah.
Akumulasi curah hujan diprediksi berada pada kisaran 0-50 milimeter per dasarian. Kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi memperpanjang periode hari tanpa hujan di sejumlah wilayah.
Selain curah hujan yang rendah, BMKG juga mencatat sejumlah wilayah Sultra telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi yang beragam.
Berdasarkan hasil monitoring, HTH di Sultra berada pada kategori sangat pendek hingga sangat panjang. HTH kategori sangat pendek berlangsung selama 1-5 hari.
Sementara itu, HTH kategori sangat panjang berlangsung selama 31-60 hari. Kondisi tersebut tercatat di sejumlah wilayah Bumi Anoa.
Wilayah yang mengalami HTH kategori sangat panjang tersebar di Kota Baubau, Bombana, Buton Selatan, Kolaka, Konawe Selatan, dan Muna.
Meski demikian, kondisi hari tanpa hujan tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Sultra. BMKG masih mencatat beberapa daerah yang mengalami hujan hingga pembaruan terakhir.
Wilayah tersebut antara lain Kecamatan Meluhu di Kabupaten Konawe. Hujan juga masih tercatat di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara.
Sejalan dengan rendahnya curah hujan dan panjangnya periode tanpa hujan di sejumlah daerah, BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Sultra.
Kusairi mengatakan sebagian besar wilayah Sultra saat ini berada pada kategori waspada dan siaga. Namun, belum ada wilayah yang masuk dalam kategori awas.
“Nah sebagian besar wilayah di Sultra itu masih memasuki waspada dan siaga, belum ada yang awas. Kalau awas kan, sudah level paling tinggi. Jadi masih waspada,” ungkapnya.
Kusairi menjelaskan peringatan dini kekeringan meteorologis berkaitan dengan kondisi curah hujan yang kecil atau berada di bawah rata-rata.
“Karena tidak ada hujan, maka kita mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis. Yaitu dikatakan peringatan meteorologis berarti curah hujannya kecil,” jelasnya.
Menurut Kusairi, kondisi minim hujan tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat. Terlebih, beberapa wilayah telah mengalami hari tanpa hujan dalam durasi yang cukup panjang.
Untuk mengantisipasi potensi dampak kekeringan, BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan iklim di Sultra. Pemantauan dilakukan untuk melihat perubahan kondisi curah hujan di berbagai wilayah.
BMKG terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait kesiapsiagaan menghadapi potensi kerawanan akibat kekeringan di Sulawesi Tenggara.
Informasi mengenai kondisi iklim tersebut disampaikan sebagai bahan antisipasi bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Kewaspadaan diperlukan untuk menghadapi berbagai dampak yang mungkin terjadi selama periode minim hujan.
Laporan: Ika Astuti



