LAJUR.CO, KENDARI – November telah tiba, tetapi musim hujan belum menunjukkan tanda-tanda datang di Sulawesi Tenggara (Sultra). Sebaliknya, ancaman kekeringan meteorologis masih membayangi sejumlah wilayah. Bahkan, Kota Kendari hingga Kabupaten Muna masuk kategori awas atau level peringatan tertinggi berdasarkan pemetaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode 1–10 November 2026.
Kondisi ini menegaskan musim kemarau masih mendominasi Bumi Anoa. BMKG mencatat seluruh 19 Zona Musim (ZOM) di Sultra belum beralih ke musim hujan hingga dasarian III Oktober 2026. Meski hujan ringan mulai turun di beberapa daerah, kondisi tersebut belum menjadi penanda berakhirnya musim kemarau.
Mengacu Buletin Informasi Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Dasarian I November 2026, BMKG membagi tingkat peringatan dini kekeringan meteorologis menjadi tiga kategori, yakni waspada, siaga, dan awas. Penetapannya mengacu pada sejumlah indikator, antara lain lamanya Hari Tanpa Hujan (HTH), peluang curah hujan, serta Standardized Precipitation Index (SPI) atau indeks curah hujan terstandarisasi.
Kategori awas menjadi level tertinggi. Status ini ditandai dengan hari tanpa hujan mencapai 61 hari atau lebih, peluang curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian di atas 70 persen, serta indeks SPI sebesar -2,00 atau lebih rendah.
Wilayah yang masuk kategori awas tersebar di Kota Kendari, Kota Baubau, Kabupaten Bombana, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Konawe Utara, Muna, Muna Barat, hingga Wakatobi.
Sementara itu, kategori siaga berlaku bagi wilayah dengan hari tanpa hujan selama 31–60 hari, peluang curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian di atas 70 persen, serta indeks SPI pada kisaran -1,50 hingga -1,99.
Daerah yang masuk kategori siaga meliputi Kota Baubau, Kabupaten Buton, Buton Utara, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Muna, dan Muna Barat.
Adapun kategori waspada merupakan tingkat peringatan dini yang lebih rendah dibandingkan siaga dan awas. Indikatornya meliputi hari tanpa hujan selama 21–30 hari, peluang curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian di atas 70 persen, serta indeks SPI pada kisaran -1,00 hingga -1,49.
Wilayah yang masuk kategori waspada mencakup Kabupaten Buton Tengah, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Muna.
Di tengah ancaman kekeringan tersebut, BMKG tidak mencatat adanya potensi peringatan dini curah hujan tinggi di seluruh kabupaten/kota di Sultra selama 1–10 November 2026. Kategori waspada, siaga, maupun awas untuk potensi hujan tinggi tercatat nihil.
Prakiraan cuaca pada periode yang sama pun belum menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai guntur dan angin kencang. Kondisi nihil tersebut berlaku pada periode 1–3 November, 4–6 November, hingga 7–10 November 2026.
Meski begitu, hujan ringan mulai mengguyur sejumlah daerah. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Sulawesi Tenggara, Kusairi, menegaskan kondisi tersebut belum menjadi penanda dimulainya musim hujan di Sultra.
“Hujan yang terjadi masih dalam kategori ringan. Jadi di Sultra belum masuk musim hujan,” ungkap Kusairi kepada awak Lajur.co, Senin (2/11/2026).
Kondisi iklim di Sultra turut dipengaruhi dinamika fenomena iklim global. BMKG mencatat indeks ENSO di wilayah Nino 3.4 pada periode Agustus–September–Oktober 2026 mencapai +3,05. Angka ini menunjukkan fenomena El Nino berada pada kategori sangat kuat.
“Kondisi ini diprediksi bertahan hingga awal 2027,” ungkap Kusairi.
Selain El Nino, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) turut menjadi perhatian. Pada dasarian II Oktober 2026, IOD berada dalam fase positif dengan indeks +0,765 dan diprakirakan berpeluang bertahan hingga akhir 2026.
Sebagai informasi, kekeringan meteorologis merupakan kondisi berkurangnya curah hujan di suatu wilayah dalam periode tertentu atau berlangsungnya musim kemarau berkepanjangan. Sementara itu, hari tanpa hujan dihitung ketika curah hujan kurang dari 1 milimeter per hari.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan. Informasi peringatan dini tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam menyiapkan langkah mitigasi sesuai kondisi wilayah masing-masing. Sis





