LAJUR.CO, KOLAKA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, membawa dua pesan utama bagi seluruh kader dan simpatisan Golkar di Sulawesi Tenggara (Sultra). Selain harus bahu-membahu menyukseskan program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, partai berlambang pohon beringin itu dituntut bekerja lebih keras untuk menambah perolehan kursi pada Pemilu 2029.
Arahan tersebut merupakan amanah Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia sekaligus mandat Musyawarah Nasional (Munas) yang harus diterjemahkan seluruh jajaran pengurus hingga tingkat daerah.
“Sesuai Munas, sebenarnya tugas kita dua, menyukseskan program Prabowo-Gibran dan menambah kursi,” kata Sarmuji.
Pesan politik itu disampaikan Sarmuji saat meresmikan kantor baru DPD II Partai Golkar Kolaka, Senin (2/11/2026). Ia hadir didampingi politisi senior Golkar Ridwan Bae dan Ketua DPD I Golkar Sultra La Ode Darwin.
Di hari yang sama, Sarmuji yang mewakili DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia melantik pengurus inti DPD I Golkar Sultra bersama jajaran pengurus DPD II kabupaten/kota se-Sultra di Lapangan 19 November, Kolaka. Pelantikan tersebut turut dihadiri Gubernur Sultra Andi Sumangerukka dan Bupati Kolaka Amri.
Sebagai bagian dari koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran, Golkar memiliki tanggung jawab politik untuk ikut memastikan agenda pemerintah berjalan sukses. Namun, Sarmuji mengingatkan, peran sebagai mitra strategis pemerintah tidak boleh membuat kader melupakan target elektoral partai.
Golkar harus tetap memperkuat basis dukungan dan memperbesar kekuatan di parlemen agar mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu partai besar di Indonesia.
Bahkan, Sarmuji meminta penambahan kursi menjadi perhatian yang terus melekat dalam aktivitas seluruh pengurus.
“Setiap hari seluruh pengurus harus berpikir, bagaimana caranya nambah kursi, bagaimana caranya nambah kursi. Hanya itu saja yang perlu dipikirkan,” tegasnya.
Menurut Sarmuji, strategi untuk mencapai target tersebut tidak harus seragam. Setiap daerah memiliki karakteristik dan tantangan politik berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya konsolidasi organisasi sebagai fondasi memperkuat mesin partai. Pelantikan pengurus tingkat provinsi hingga kabupaten/kota menjadi bagian dari upaya menghimpun seluruh potensi Golkar agar semakin dekat dengan masyarakat.
“Kalau tidak melakukan konsolidasi, pasti seluruh kekuatan tidak bisa kita himpun,” ujarnya.
Sarmuji mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan antargenerasi di tubuh partai. Pengurus senior harus tetap dirangkul, sementara kader muda diberi ruang lebih luas untuk terlibat dalam kerja-kerja politik.
Sebelum pelantikan, Golkar Sultra telah menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) untuk merumuskan program dan agenda organisasi selama satu periode ke depan.
Sarmuji berharap konsolidasi tersebut melahirkan kepemimpinan yang solid sekaligus mendorong peningkatan perolehan kursi Golkar di Sultra sesuai target Munas dan Musyawarah Daerah (Musda).
Tantangan lain yang menjadi perhatian DPP Golkar adalah perubahan karakter pemilih menjelang Pemilu 2029. Sarmuji secara khusus meminta pengurus daerah menggarap segmen pemilih muda melalui pendekatan yang lebih adaptif.
Ia menilai Generasi Z memiliki karakter berbeda karena tumbuh sebagai digital native atau generasi yang akrab dengan teknologi digital. Sementara Generasi Alpha bahkan telah memasuki era AI native, sehingga membutuhkan pola komunikasi politik yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
“Pemilih 2029 sekitar 70 persen berada di rentang usia 17 tahun sampai 50 atau 55 tahun. Mereka memerlukan pendekatan yang berbeda sekali dengan seniornya,” jelas Sarmuji.
Menurutnya, penguasaan ruang digital menjadi salah satu strategi penting untuk menjangkau pemilih muda. Golkar harus mampu menyesuaikan cara berkomunikasi agar pesan dan program partai dapat diterima lintas generasi.
Di sisi lain, Sarmuji turut menanggapi hubungan Partai Golkar dan Gerindra yang terlihat harmonis di Sultra. Ia menyebut kedekatan kedua partai bukan hanya berlangsung di tingkat daerah, tetapi juga tercermin dalam dinamika politik nasional.
Dengan nada berseloroh, Sarmuji mengibaratkan hubungan Golkar dan Gerindra seperti kedekatan Ketua DPD I Golkar Sultra La Ode Darwin dengan Bupati Kolaka Amri.
“Oh itu, bukan hanya terjadi di Sulawesi Tenggara. Di tingkat nasional Gerindra dan Golkar seperti hubungan antara Ketua Golkar Sultra dengan Bupati Kolaka, bestie, bestie ya,” tutup Sarmuji. Adm





