?>
BERITA TERKINIDAERAHHEADLINE

Kisah Haroa, Tradisi Asal Muna, Terpilih dalam Antologi Nusantara 2026

×

Kisah Haroa, Tradisi Asal Muna, Terpilih dalam Antologi Nusantara 2026

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI — Kisah Haroa, tradisi asal Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapat ruang lebih luas untuk dikenal publik setelah diangkat dalam karya Sultan Musa yang terpilih sebagai bagian dari Antologi Nusantara 2026.

Karya tersebut menjadi salah satu dari 26 naskah yang lolos proses kurasi dalam program penulisan kreatif yang diinisiasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) United Kingdom. Antologi tersebut menghimpun cerita, esai, potret, serta catatan mengenai keragaman warisan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Sultan Musa mengangkat Haroa melalui tulisan berjudul “Tradisi Haroa: Fragmen Membasuh Doa & Merawat Syukur di Atas Dulang Leluhur.” Tulisan itu berangkat dari pengalaman eksplorasi budaya di Sulawesi Tenggara, khususnya dalam melihat lebih dekat kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Muna.

Menurut Sultan Musa, Haroa memiliki kekuatan cerita yang tidak hanya terletak pada bentuk pelaksanaannya, tetapi juga pada nilai yang diwariskan melalui praktik tersebut.

“Haroa bukan sekadar tentang hidangan yang disusun di atas dulang. Ada doa, rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang membuatnya memiliki makna lebih dalam,” ujar Sultan Musa.

Haroa merupakan salah satu warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Muna. Pelaksanaannya kerap hadir dalam berbagai momentum penting, seperti Ramadan, Idulfitri, Iduladha, maupun ketika sebuah keluarga memperoleh keberhasilan atau pencapaian tertentu.

Baca Juga :  Wakil Rektor Dr. Herman Buka Suara Respons Dugaan Pelonco Maba UHO, Perintahkan Investigasi

Dulang menjadi salah satu unsur yang identik dengan kegiatan tersebut. Berbagai hidangan disiapkan dan ditata bersama, kemudian menjadi bagian dari rangkaian yang diiringi doa. Suasana kebersamaan menjadi bagian penting karena keluarga dan kerabat berkumpul untuk berbagi makanan sekaligus menyampaikan harapan.

Doa yang dipanjatkan tidak sekadar menjadi pelengkap acara. Di dalamnya terdapat permohonan agar keluarga senantiasa memperoleh keselamatan, perlindungan, keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.

Bagi masyarakat Muna, pelaksanaan Haroa juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarkeluarga. Pertemuan tersebut menghadirkan kesempatan untuk menjaga silaturahmi sekaligus meneruskan pengetahuan mengenai nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.

“Yang ingin saya catat bukan hanya bagaimana Haroa dilaksanakan, tetapi juga nilai yang berada di baliknya. Ada hubungan antara makanan, doa, keluarga, dan warisan leluhur yang membuat praktik ini menarik untuk diperkenalkan,” kata Sultan Musa, disampaikan Lajur.co, 8 September 2026.

Ketertarikan mengangkat Haroa tidak terlepas dari kiprah Sultan Musa yang selama ini aktif menulis mengenai eksplorasi budaya, kuliner, serta literasi perjalanan. Berbagai daerah telah menjadi ruang baginya untuk mendokumentasikan cerita masyarakat dan kearifan lokal yang ditemui sepanjang perjalanan.

Baca Juga :  Nelayan Wajib Waspada! BMKG Umumkan, Gelombang Tinggi Intai Perairan Sultra

Melalui tulisan tersebut, Haroa ditempatkan bukan semata sebagai sebuah ritual yang berlangsung pada waktu tertentu, melainkan sebagai bagian dari identitas budaya yang menyimpan nilai sosial dan spiritual masyarakat Muna.

Terpilihnya karya tentang Haroa dalam Antologi Nusantara 2026 sekaligus membuka jalan bagi cerita budaya Muna untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. Sebuah praktik yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat setempat kini dituangkan menjadi karya literasi yang akan menjadi bagian dari publikasi budaya Indonesia.

Antologi Nusantara 2026 sendiri merupakan proyek penulisan kreatif kolaboratif yang digagas PPI United Kingdom. Program tersebut bertujuan menghimpun beragam kisah mengenai tradisi dan praktik budaya unik yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.

Sebanyak 26 penulis dari latar belakang berbeda dinyatakan lolos kurasi. Karya mereka akan disusun menjadi sebuah buku yang diterbitkan PPI United Kingdom sebagai salah satu media untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada pembaca di tingkat internasional.

Baca Juga :  6 Siswi SMA 4 Kendari Tampil di Istana Negara, Berangkat dengan Biaya Sendiri

Bagi Sultan Musa, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk membawa cerita lokal keluar dari batas geografis daerah asalnya.

“Saya berharap kisah Haroa bisa menjadi pintu bagi pembaca untuk mengenal Muna lebih dekat. Ketika sebuah tradisi diceritakan dengan baik, orang tidak hanya mengenal bentuknya, tetapi juga memahami nilai yang dijaga oleh masyarakatnya,” tuturnya.

Kehadiran Haroa dalam antologi tersebut menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya tersimpan dalam situs sejarah, benda pusaka, atau pertunjukan seni. Banyak warisan justru tetap hidup melalui kebiasaan masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Haroa adalah salah satunya. Di atas dulang, makanan disatukan; melalui doa, harapan dipanjatkan; sementara melalui kebersamaan, nilai leluhur terus diwariskan.

Kini, kisah tersebut bergerak dari Muna menuju ruang literasi yang lebih luas. Melalui Antologi Nusantara 2026, Haroa mendapat kesempatan untuk menyapa pembaca dari berbagai daerah dan memperkenalkan salah satu wajah budaya Muna kepada dunia.

Warisan yang tumbuh dari ruang keluarga itu pun kembali menemukan cara untuk terus hidup: dirawat oleh masyarakat, dituliskan melalui literasi, dan diperkenalkan kepada generasi yang lebih luas. Adm

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>