LAJUR.CO, KOLAKA – Tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah menjadi sumber penghasilan baru bagi Indah Susanti, warga Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). Melalui pembinaan PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Indah bersama kelompok perempuan setempat kini memproduksi sekitar 10 jenis produk herbal kemasan yang dijual dengan harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kemasan.
Usaha tersebut berkembang setelah Indah mengikuti edukasi pemanfaatan tanaman herbal pada 2022. Program pemberdayaan masyarakat PT Vale Indonesia itu memperkenalkan berbagai jenis tanaman sekaligus memberikan keterampilan pengolahan agar hasil pekarangan memiliki nilai ekonomi.
Indah bersama kelompoknya tidak hanya belajar menanam, tetapi juga mempraktikkan proses pemanenan, pengeringan, peracikan, pengemasan, hingga pemberian label produk.
“Sebelumnya saya tidak mengerti tentang obat-obatan selain kunyit. Kalau kunyit dulu kita cuma pakai untuk obat maag karena suami saya konsumsi itu. Setelah datang Vale, kami diedukasi dan diajarkan berbagai macam tanaman herbal,” ujar Indah.
Dari pendampingan tersebut, kelompoknya mulai menghasilkan beragam produk herbal. Di antaranya racikan yang dipasarkan untuk kebutuhan konsumen terkait asam urat, diabetes, hipertensi, asam lambung, batu saluran kencing, ambeien, nyeri lutut, kolesterol, serta teh relaksasi.
Menurut Indah, produk herbal untuk asam urat menjadi salah satu yang paling banyak dipesan. Harga setiap kemasan berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.
Pemasaran produk masih dilakukan secara sederhana melalui jaringan pelanggan dan media sosial pribadi. Indah rutin menawarkan produk melalui status WhatsApp agar calon pembeli mengetahui jenis herbal yang tersedia.
“Biasanya saya posting saja di status WhatsApp,” katanya.
Pelanggan produk herbal tersebut berasal dari sejumlah wilayah, termasuk Pomalaa dan Kolaka. Di Desa Puuroda, sekitar tiga perempuan terlibat dalam kegiatan produksi hingga pemasaran, sementara perempuan lainnya tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT).
Bagi Indah, keterampilan mengolah tanaman herbal memberikan peluang untuk memperoleh penghasilan dari aktivitas yang bisa dilakukan di sekitar rumah. Pekarangan yang sebelumnya hanya menjadi tempat bercocok tanam untuk hobi kini dimanfaatkan secara lebih produktif.
Selain herbal, Indah menanam sayuran dan tanaman lain yang bisa dijual kepada warga sekitar. Ia turut mengembangkan rumah kompos dengan memanfaatkan sampah organik rumah tangga untuk menghasilkan pupuk.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Indah memaksimalkan potensi lahan di sekitar tempat tinggalnya. Hasil pekarangan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga dipasarkan agar memberikan tambahan pemasukan bagi keluarga.
Pembinaan melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia IGP Pomalaa memberikan keterampilan baru kepada Indah dan kelompok perempuan di wilayah Kecamatan Baula. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan dalam kegiatan produksi dan pemasaran produk berbasis tanaman lokal.
Indah berharap usaha herbal yang dikembangkan bersama kelompoknya dapat terus bertahan dan menjangkau lebih banyak pelanggan. Adm





